"Penerapannya secara nasional. Tentu ada masa jeda untuk penyesuaiannya. Sisa-sisa B40 dihabiskan dulu, diberi waktu sampai tiga bulan hingga menjadi 100 persen pemenuhan ke B50," ujar Laode.
Masa transisi tersebut berlaku bagi seluruh pengguna, baik konsumen umum maupun sektor industri. Dengan demikian, distribusi B50 akan dilakukan secara bertahap hingga seluruh pasokan solar biodiesel di Indonesia beralih ke campuran baru tersebut.
Sebelumnya, Menteri ESDM Bahlil Lahadalia mengatakan dengan implementasi B50 ini diproyeksikan menghentikan impor solar secara signifikan karena sebagian akan diganti dengan campuran bahan bakar nabati seperti CPO (Crude Palm Oil).
"Ternyata sampai dengan B50 yang besok Juli akan kita resmikan, itu menyelamatkan wajah Indonesia dari ketergantungan impor solar kita, mulai tahun ini kita tidak lagi impor solar," katanya.
Bahlil memaparkan, konsumsi solar nasional meningkat dari 33,49 juta kiloliter pada 2020 menjadi 40,2 juta kiloliter pada 2026. Kebutuhan tersebut dipenuhi dari kombinasi produksi kilang domestik, impor, dan biodiesel berbasis FAME. Porsi FAME terus meningkat dari 8,4 juta kiloliter pada 2020 menjadi 20,1 juta kiloliter pada 2026.