Ia mengatakan, saat ini Pemerintah masih melakukan uji coba penggunaan tabung ukuran 3 Kg untuk penjualan CNG kepada masyarakat. Sebab saat ini produk tersebut baru di jual untuk kebutuhan industri dengan ukuran 12 Kg dan 20 Kg.
"Tapi kan untuk CNG ini, untuk yang 12 kilo, yang 20 kilo itu sudah jalan, untuk dipakai di hotel dan restoran. Dan kemudian bagus, dan itu lebih efisien. Tapi kan rakyat kan enggak mungkin kita suruh yang berat-berat itu, 20 kilo. Nah, ini yang kita lagi godok. Dan ini sudah kita kerjakan sebenarnya sejak setahun lalu. Tapi untuk mendapatkan teknologi yang 3 kilogramnya, ini lagi kita tes," katanya.
Bahlil mengatakan penggunaan CNG diproyeksikan bakal menekan angka impor LPG. Sebab Indonesia tergolong punya banyak cadangan jenis gas tersebut. Hanya saja teknologi untuk mengkonversi cadangan tersebut untuk memenuhi kebutuhan masyarakat masih terbatas.
"Ketika gejolak geopolitik seperti ini untuk mendapatkan kepastian impor LPG itu memang ada, tapi kan kita tergantung pada global. Maka kami merumuskan alternatif lain. Apalagi kami baru menemukan gas di Kalimantan Timur. Nah ini sebagian besar kami bisa dialokasikan untuk kebutuhan dalam negeri untuk meng-cover CNG," kata Bahlil di Istana Negara (5/5).
Sekedar informasi tambahan, konsumsi LPG nasional saat ini mencapai 8,6 juta ton per tahun. Dari angka tersebut, hanya 1,6-1,7 juta ton yang diproduksi dalam negeri dan selebihnya dipenuhi dari impor.