Pengujian juga dilakukan pada berbagai jenis kendaraan dan peralatan operasional untuk memastikan kesiapan implementasi secara luas. Uji coba mencakup kendaraan angkutan, alat berat sektor pertambangan, ekskavator, kapal, kereta api, hingga berbagai mesin dan kendaraan pertanian.
"Ini sudah dilakukan uji coba di berbagai kendaraan, baik alat berat, kapal, kereta api, dan kendaraan lainnya. Sektor tambang, ekskavator, hingga alat pertanian semuanya sudah dilakukan," kata Bahlil.
Berdasarkan hasil tersebut, pemerintah optimistis peluncuran B50 pada semester II 2026 dapat berjalan sesuai rencana. Implementasi B50 diharapkan mampu menekan kebutuhan impor solar secara signifikan, bahkan berpotensi menghilangkan impor untuk jenis solar tertentu apabila program berjalan optimal.
Selain memperkuat ketahanan energi nasional, program biodiesel juga memberikan manfaat ekonomi yang besar. Bahlil mencatat implementasi program B50 akan mampu menciptakan nilai tambah bagi industri kelapa sawit nasional sebesar Rp24,68 triliun. Program ini juga berkontribusi terhadap penyerapan tenaga kerja hingga lebih dari 2,2 juta orang di sepanjang rantai pasok industri sawit dan energi.
Dari sisi lingkungan, pemanfaatan biodiesel turut mendukung agenda transisi energi dan penurunan emisi gas rumah kaca (GRK). Program B50 diperkirakan akan mampu mengurangi emisi hingga 46,72 juta ton setara karbon dioksida (CO?), sekaligus mendukung pencapaian target penurunan emisi nasional.