IDXChannel - Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) menanti intervensi pemerintah mengatasi beratnya beban usaha di Indonesia yang selama ini menjadi momok bagi pengusaha. Sejumlah isu yang menjadi sorotan yakni tingginya biaya logistik dan bunga pinjaman perbankan.
Wakil Ketua Umum Apindo Sanny Iskandar mengungkapkan, saat ini empat hal yang menyebabkan berusaha atau berbisnis di Indonesia menghadapi biaya tinggi (high cost economy).
"Yang kami lihat masih ada namanya high cost economy, sehingga produk atas barang dan jasa yang kami create itu kompetisinya (daya saing jual) kurang," ujarnya dalam acara diskusi di Graha CIMB Niaga, Jakarta, Kamis (12/2/2026).
Pertama, biaya logistik yang tinggi. Menurut Sanny, beban logistik di Indonesia mencapai lebih dari 16 persen dari total beban. Idealnya beban logistik bisa ditekan hingga satu digit, sehingga membuat Harga Pokok Penjualan (HPP) bisa menjadi lebih efisien.
Dengan HPP yang lebih rendah, kata Sanny, pengusaha bisa meningkatkan daya saing produk tidak hanya di dalam negeri, melainkan dengan barang-barang dari luar negeri.
"Sehingga kami bisa bersaing dengan Vietnam misalnya. Kenapa Vietnam industrialisasinya luar biasa, apalagi China? Karena mereka bisa membentuk sebuah closed-loop ecosystem (ekosistem) yang terbiayai oleh logistik, itu enggak terlalu membebani. Idealnya di single digit beban logistik terhadap total beban," kata Sanny.
Kedua, faktor yang menyebabkan high cost economy yakni soal pembiayaan atau kredit dari lembaga keuangan. Atensi pengusaha tertuju pada besaran suku bunga kredit atas pinjaman. Sebab, ekspansi bisnis dengan meningkatkan skala produk berkorelasi dengan kekuatan modal.
"Ketika cost of fund-nya diturunkan, maka daya saingnya otomatis menjadi lebih baik. Karena kita berbicara bersaing dengan Malaysia yang mereka sudah kasih bunga 4-6 persen setahun. Singapura bisa 2-4 persen. Kita masih 8-12 persen misalnya," tutur Sanny.
Ketiga, Sanny melanjutkan, masalah terletak pada ongkos energi. Dia menyoroti biaya energi bagi industri masih tergolong besar dibanding negara pesaing di Asia Tenggara.
"Masih lebih mahal sekitar 30-an persen dibandingkan dengan negara-negara yang industrinya bagus, termasuk Vietnam. Sehingga harapannya kita bisa turun dan lebih kompetitif," katanya.
Faktor terakhir berkutat seputar rendahnya kualitas produktivitas dan daya saing pekerja dalam negeri. Sanny bilang peranan SDM unggul dibutuhkan bagi industri, terutama saat fase merintis dan mengembangkan lini bisnis.
(Rahmat Fiansyah)