AALI
10225
ABBA
474
ABDA
0
ABMM
1650
ACES
1405
ACST
262
ACST-R
0
ADES
2540
ADHI
1095
ADMF
7875
ADMG
240
ADRO
1765
AGAR
344
AGII
1530
AGRO
2130
AGRO-R
0
AGRS
214
AHAP
64
AIMS
505
AIMS-W
0
AISA
232
AISA-R
0
AKKU
50
AKPI
900
AKRA
4650
AKSI
570
ALDO
755
ALKA
246
ALMI
240
ALTO
294
Market Watch
Last updated : 2021/10/26 Data is a realtime snapshot, delayed at least 10 minutes
IDX30
513.30
0.5%
+2.54
IHSG
6656.94
0.47%
+31.24
LQ45
965.04
0.39%
+3.72
HSI
26038.27
-0.36%
-93.76
N225
29106.01
1.77%
+505.60
NYSE
17169.07
0.27%
+46.83
Kurs
HKD/IDR 1,818
USD/IDR 14,150
Emas
818,997 / gram

Belum Usai Urusan Utang Jumbo, Kini China Dihantam Krisis Energi

ECONOMICS
Anto Kurniawan/Sindonews
Rabu, 29 September 2021 08:23 WIB
Goldman Sachs memperkirakan, ekonomi terbesar kedua di dunia itu akan tumbuh sebesar 7,8% tahun ini.
Belum Usai Urusan Utang Jumbo, Kini China Dihantam Krisis Energi (FOTO:MNC Media)

IDXChannel  - Goldman Sachs menjadi raksasa perbankan terbaru yang memangkas proyeksi pertumbuhan ekonomi China dimana setelah China tengah dilanda krisis energi

Seperti diketahui sebelumnya warga di wilayah timur laut China mengalami pemadaman listrik mendadak yang awalnya melanda pabrik lalu menyebar ke rumah-rumah. 

Goldman Sachs memperkirakan, ekonomi terbesar kedua di dunia itu akan tumbuh sebesar 7,8% tahun ini. Angka tersebut turun dari prediksi sebelumnya sebesar 8,2% untuk tahun 2021. 

Pemangkasan produksi di China sebagai akibat dari pemadaman listrik diyakini bakal menggerus pertumbuhan ekonomi China. Diperkirakan sebanyak 44% aktivitas industri China telah terpengaruh akibat krisis energi. 

Krisis pasokan listrik di China disebabkan beberapa faktor di antaranya kebijakan perubahan iklim, kendala pasokan serta harga komoditas energi yang terus melonjak membuat beberapa pabrik hingga perubahan tidak memiliki listrik. 

Kekurangan energi pada awalnya hanya menimpa pabrik dan mempengaruhi produsen di seluruh negeri. Banyak di antara mereka terpaksa harus mengurangi, atau bahkan menghentikan produksi dalam beberapa pekan terakhir. 

Sebuah dokumen yang dilihat oleh BBC menunjukkan bahwa pelabuhan terbesar di China Utara yaitu di Tianjin juga terdampak kekurangan listrik. Kebutuhan listrik dijatah untuk crane yang mengangkat kargo kapal demi penghematan. Kondisi tersebut diperkirakan akan berlanjut hingga akhir pekan ini. 

Kekurangan pasokan listrik kini sudah menyebar ke beberapa rumah, dimana penduduk yang tinggal pada wilayah Timur Laut China mengalami pemadaman listrik tanpa pemberitahuan dalam beberapa hari terakhir. 

Orang-orang yang tinggal di provinsi Liaoning, Jilin dan Heilongjiang mengeluh di media sosial tentang kurangnya pemanas, ditambah lift dan lampu lalu lintas tidak berfungsi. Pemerintah provinsi sendiri berebut pasokan untuk memberikan listrik dan pemanas bagi penduduknya. 

Kondisi ini memperlihatkan China sangat bergantung pada batubara sebagai bahan bakar pembangkit listrik. Raksasa keuangan Jepang Nomura, bank investasi Wall Street Morgan Stanley dan China International Capital Corporation juga telah menurunkan perkiraan pertumbuhan ekonomi China atau memperingatkan pertumbuhan yang lebih rendah karena gangguan listrik. 

Ekonomi China sudah bergulat dengan dampak peraturan baru yang cenderung proteksi terhadap beberapa industri terbesar di negara itu seperti pengembang properti dan perusahaan teknologi. 

Kekhawatiran Evergrande 

Kekhawatiran atas nasib raksasa real estate, Evergrande yang terlilit utang jumbo hingga ribuan triliun juga membebani investor dan jadi sentimen negatif bagi pasar. 

"Ketidakpastian cukup besar membayangi kuartal keempat, dengan risiko naik dan turun yang terutama berkaitan dengan pendekatan pemerintah untuk mengelola tekanan Evergrande, ketatnya penegakan kebijakan lingkungan dan pelonggaran kebijakan jadi perhatian," kata Goldman. 

Pada hari Senin, tanpa menyebutkan nama Evergrande, bank sentral China berjanji untuk melindungi konsumen yang terpapar pasar perumahan. Pengumuman oleh People's Bank of China telah dilihat sebagai sinyal bahwa pihak berwenang siap bertindak untuk menghentikan dampak dari krisis Evergrande yang menyebar ke sektor lain ekonomi. 

Pasar global sendiri telah diguncang dalam beberapa hari terakhir karena investor khawatir tentang kemampuan perusahaan untuk melakukan pembayaran bunga atas utangnya mencapai lebih dari USD300 miliar.

(SANDY)

link copied to clipboard
COPY TO CLIPBOARD