"Kemudian juga tentunya ekspor juga akan terganggu. Jadi at the end, at the end permasalahan yang tadi geopolitik bisa akhirnya masuk ke permasalahan di ekonomi," ujarnya.
Sebelumnya, Trump sempat mengancam tarif terhadap sekutu-sekutu Eropa yang menentang rencananya mencaplok Greenland.
Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo menjelaskan, pelemahan nilai tukar turut dipengaruhi faktor global. Ini berkaitan dengan ketidakpastian pasar keuangan global yang meningkat terutama dipicu oleh kebijakan tarif resiprokal AS serta meluasnya eskalasi ketegangan geopolitik.
"Faktor-faktor global itu terkait tentu saja kondisi global, baik karena geopolitik, kemudian juga kebijakan tarif Amerika, tapi juga tingginya US Treasury yield baik 2 tahun sama 3 tahun, juga lebih rendahnya bahkan kemungkinan Fed Fund Rate turun yang lebih kecil," kata dia.
Sebagai informasi, Trump mengancam memberikan tarif sebesar 10 persen mulai 1 Februari 2026 terhadap delapan negara Eropa yang menentang rencana Washington mengakuisisi Greenland.
Negara-negara yang menjadi target adalah Denmark, Norwegia, Swedia, Prancis, Jerman, Inggris, Belanda dan Finlandia.
Ancaman tersebut berpotensi meningkat jadi 25 persen pada 1 Juni apabila tidak ada kesepakatan yang tercapai terkait Greenland.
(Dhera Arizona)