"Kalau saya tidak pintar-pintar cari harga yang bagus, barang bagus, ya duitnya tidak cukup. Tapi dengan seperti ini (impor dari India), kan Indonesia dapat barang bagus, kualitas bagus, harganya sangat bagus sehingga kami bisa manfaatkan ini untuk kepentingan rakyat untuk memotong distribusi yang selama ini menjadi beban utama dari petani," urai Joao.
Di sisi lain, Joao ingin semacam mendiversifikasi pasar dalam pembelian kendaraan pick up dan truk. Dia mengatakan bahwa tidak bisa selamanya bergantung pada produk arus utama. Adapun, soal kualitas, dia bilang pengguna yang akan menilai.
Joao mengklaim sudah mempertimbangkan pembelian kendaraan yang diproduksi dalam negeri dan sebagian pengadaan sudah dibeli dari pabrikan otomotif yang tersedia di Indonesia. Tapi, katanya, ketersediaan kendaraan jenama arus utama menjadi isu.
"Semua produk dalam negeri, kami sudah beli semua untuk truk produk roda enam habis sudah tidak ada lagi. Coba sekarang beli Kino pick up atau Mitsubishi Canter, itu udah tidak ada. Nunggu (ketersediaan) produknya paling satu tahun baru bisa," kata Joao.
Dia memastikan keputusan membeli kendaraan impor dari India sudah diketahui pemerintah pusat, tak terkecuali Danantara, yang memberikan anggaran pengadaan.
(Febrina Ratna Iskana)