Pertumbuhan yang menyentuh angka 5,61 persen ini dipicu oleh tiga komponen utama dari sisi pengeluaran. Konsumsi rumah tangga masih menjadi motor penggerak dominan, diikuti oleh investasi yang tumbuh signifikan, serta lonjakan belanja pemerintah. Pergeseran momentum hari besar ke awal tahun juga menjadi variabel penentu yang mendongkrak aktivitas ekonomi di tingkat akar rumput.
"Konsumsi rumah tangga di triwulan I-2026 ini tumbuh 5,52 persen dengan kontribusi terhadap PDB mencapai 54,36 persen, atau menyumbang 2,94 persen basis poin dari total angka pertumbuhan. Selain itu, investasi kita tumbuh 5,96 persen dengan sumbangsih 1,79 persen, sementara konsumsi pemerintah atau government spending melonjak hingga 21 persen dan memberikan andil 1,26 persen basis poin," jelas Amalia.
Dilihat dari sisi lapangan usaha, sektor industri pengolahan tetap menjadi tulang punggung utama ekonomi nasional dengan kontribusi terbesar. Selain itu, momentum Ramadan dan Lebaran terbukti ampuh meningkatkan mobilitas serta belanja masyarakat secara luar biasa.
Di saat yang sama, kehadiran program-program baru pemerintah mulai terasa dampaknya pada penyerapan produksi di berbagai sektor.
"Industri pengolahan tumbuh 5,64 persen dengan pangsa pasar 19,07 persen, diikuti sektor perdagangan, pertanian, dan konstruksi sebagai penyumbang utama dari sisi produksi. Faktor pendorong lainnya adalah libur Lebaran yang meningkatkan konsumsi masyarakat, serta program prioritas pemerintah seperti Makan Bergizi Gratis (MBG) dan Koperasi Desa Merah Putih yang kini dalam masa konstruksi," tambahnya.