“Peningkatan permintaan bahan baku memang mendorong inflasi di daerah, namun dari simulasi yang kami lakukan tingkat inflasinya masih di bawah 5 persen sehingga masih berada dalam batas yang dapat ditoleransi,” ungkapnya.
Penelitian yang melibatkan sekitar 855 responden tersebut juga menemukan bahwa program MBG mendorong peningkatan produksi di sektor pangan dan pertanian. Peningkatan produksi terlihat pada berbagai komoditas seperti beras, olahan daging, susu, sayuran, buah-buahan hingga hasil potong hewan.
Dampak program juga menjalar ke sektor industri pengolahan seperti tepung, roti dan biskuit, hingga produk olahan ikan dan makanan lainnya. Bahkan sektor pendukung seperti industri plastik dan peralatan dapur turut mengalami peningkatan aktivitas produksi.
Selain itu, program MBG berpotensi meningkatkan penyerapan tenaga kerja. Berdasarkan simulasi penelitian, program ini dapat menambah tenaga kerja sekitar 0,9 persen atau setara dengan sekitar 183 ribu orang yang tersebar di berbagai sektor.
Tak hanya itu, Iwan mengatakan temuan penelitian menunjukkan adanya peningkatan kesejahteraan rumah tangga baik di wilayah perdesaan maupun perkotaan. Dampak paling kuat dirasakan oleh kelompok rumah tangga di wilayah perdesaan, terutama pada sektor distribusi dan perdagangan.
Penulis: Nasywa Salsabila
Editor: Febrina Ratna Iskana