Melalui kajian tersebut, PYC dan CWC mengidentifikasi berbagai kesenjangan sekaligus peluang untuk meningkatkan daya saing industri baterai nasional, baik dari aspek dinamika pasar, koherensi kebijakan, maupun keberlanjutan.
Diskusi juga menghadirkan tanggapan dari Kementerian Investasi dan Hilirisasi/BKPM, Kadin Indonesia Institute (KII), serta Indonesia Battery Corporation (IBC). Para pemangku kepentingan memberikan berbagai masukan strategis untuk memperkuat implementasi kebijakan manufaktur baterai agar lebih selaras dengan kebutuhan industri dan perkembangan pasar global.
PYC berharap hasil kajian tersebut dapat menjadi masukan bagi pemerintah dalam membangun industri baterai yang terintegrasi, berkelanjutan, serta mampu mengoptimalkan posisi strategis Indonesia sebagai salah satu pemain penting dalam rantai pasok baterai dunia.
(Febrina Ratna Iskana)