AALI
9675
ABBA
290
ABDA
6325
ABMM
1385
ACES
1345
ACST
190
ACST-R
0
ADES
3570
ADHI
825
ADMF
7550
ADMG
193
ADRO
2220
AGAR
362
AGII
1445
AGRO
1445
AGRO-R
0
AGRS
172
AHAP
70
AIMS
398
AIMS-W
0
AISA
174
AISA-R
0
AKKU
50
AKPI
1120
AKRA
810
AKSI
690
ALDO
1350
ALKA
334
ALMI
290
ALTO
248
Market Watch
Last updated : 2022/01/18 Data is a realtime snapshot, delayed at least 10 minutes
IDX30
505.56
-0.34%
-1.74
IHSG
6614.06
-0.47%
-30.99
LQ45
944.82
-0.34%
-3.20
HSI
24112.78
-0.44%
-105.25
N225
28257.25
-0.27%
-76.27
NYSE
17219.06
-0.23%
-39.94
Kurs
HKD/IDR 1,837
USD/IDR 14,330
Emas
836,902 / gram

Cegah Jeratan Renternir, OJK Kucurkan Rp1,2 Triliun untuk Usaha Mikro

ECONOMICS
Yulistyo Pratomo
Sabtu, 04 Desember 2021 12:55 WIB
Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menyebut usaha mikro, kecil dan menengah (UKM) banyak yang tertekan selama pandemi.
Cegah Jeratan Renternir, OJK Kucurkan Rp1,2 Triliun untuk Usaha Mikro (FOTO:MNC Media)
Cegah Jeratan Renternir, OJK Kucurkan Rp1,2 Triliun untuk Usaha Mikro (FOTO:MNC Media)

IDXChannel - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menyebut usaha mikro, kecil dan menengah (UKM) banyak yang tertekan selama pandemi. 

Minimnya literasi keuangan membuat mereka selalu terjerat dalam pinjaman online (pinjol) ilegal dan renternir

Untuk mencegahnya, OJK ikut memberikan bantuan berupa kredit ringan bagi mereka yang belum bankable atau memiliki rekening bank sama sekali. Dana sebanyak Rp1,2 triliun kepada para pelaku usaha mikro dan menengah. 

"Setiap kabupaten dan kota kita ikut membantu UMKM, banyak sekali yang tidak bankable. Masa pandemi kemarin kan banyak pembatasan hingga membuat omzet turun," ungkap Anggota OJK Bidang Edukasi dan Perlindungan Konsumen, Tirta Segara, dalam Press Gathering di Bandung, Jawa Barat, Sabtu (4/12/2021). 

Untuk kembali membangkitkan usaha yang tertekan masa pandemi, OJK turut memberikan bantuan modal usaha kepada pelaku UMKM. Dana sebesar Rp1,2 triliun tersebut pun telah diberikan kepada 131 debitur di seluruh Indonesia. 

"Karena pandemi mereka yang punya pinjaman butuh restrukturisasi keuangan, nah untuk bangkit juga perlu modal lagi. Nah ini yang jadi sasaran renternir dan pinjol ilegal," lanjut Tirta. 

Langkah ini juga sekaligus menghalangi langkah renternir yang memberikan pinjaman dengan cara mengetuk rumah per rumah. Mirisnya, meski ada beberapa edukasi yang diberikan namun pengetahuan masyarakat untuk menghitung suku bunga juga sangat minim, yang memungkinkan terjadinya lonjakan nilai yang harus dibayarkan hingga biaya lainnya yang tinggi. 

Melalui kredit ringan yang disediakan OJK, Tirta menyebut nilai suku bunga yang diberikan pun cukup rendah. Bahkan, ada beberapa cabang OJK di daerah menerapkan bunga 0% bagi nasabahnya masing-masing. 

"Saya tanya kok bisa? Ternyata mereka mengaku dananya berasal dari sumbangan sosial dan blended dengan pinjaman yang diberikan," pungkasnya.

(SANDY)

link copied to clipboard
COPY TO CLIPBOARD