Ia menjelaskan, isu apakah produk hasil investasi akan diserap melalui proyek pemerintah atau belanja negara bukanlah faktor utama dalam perhitungan investor. Pemerintah hanyalah salah satu alternatif pasar, bukan satu-satunya penopang keberlanjutan usaha.
"Tidak selalu negara yang harus menyerap produk-produk mereka. Investor melihat market secara lebih luas, baik domestik maupun ekspor," katanya.
Dengan pendekatan tersebut, Nurul Ichwan menilai komitmen pemerintah menjaga disiplin fiskal melalui defisit APBN maksimal 3 persen justru memperkuat kepercayaan terhadap stabilitas ekonomi makro Indonesia. Stabilitas fiskal dinilai penting untuk menjaga iklim investasi yang kondusif dalam jangka panjang.
Pemerintah menargetkan peningkatan realisasi investasi melalui percepatan hilirisasi, penguatan kawasan industri, serta penyederhanaan perizinan berusaha. Langkah-langkah ini diharapkan dapat mendorong arus investasi baru meskipun ruang fiskal tetap dijaga ketat.
(Febrina Ratna Iskana)