Dalam sistem interkoneksi, kata dia, kestabilan frekuensi menjadi indikator utama keseimbangan antara daya pembangkitan dan beban pelanggan. Ketika terjadi gangguan besar dan sejumlah pembangkit lepas dari sistem, frekuensi dapat turun drastis dan memicu efek domino pada jaringan kelistrikan.
“Kalau recovery dilakukan terlalu cepat tanpa sinkronisasi yang tepat, risikonya frekuensi kembali turun dan memicu pembangkit lepas lagi dari sistem. Itu yang harus dihindari,” katanya.
Karena itu, proses pemulihan dilakukan secara bertahap dan terukur agar sinkronisasi antar pembangkit tetap terjaga, baik dari sisi frekuensi, tegangan, maupun sudut fasa sistem.
Menurutnya, ketidakseimbangan antara pasokan dan beban akibat recovery yang terlalu agresif dapat memicu blackout susulan maupun gangguan pada peralatan pembangkit dan transmisi.