sosmed sosmed sosmed sosmed
get app
Advertisement

Dominasi Batu Bara Indonesia Belum Berbuah Harga Optimal, Lemahnya Daya Tawar Jadi Sorotan

Economics editor Yanto Kusdiantono
14/07/2026 22:35 WIB
Penelitian menunjukkan bahwa Indonesia menguasai hampir 50 persen pasar batu bara termal (kalori menengah dan rendah) dunia.
Dominasi Batu Bara Indonesia Belum Berbuah Harga Optimal, Lemahnya Daya Tawar Jadi Sorotan
Dominasi Batu Bara Indonesia Belum Berbuah Harga Optimal, Lemahnya Daya Tawar Jadi Sorotan

IDXChannel - Dominasi Indonesia sebagai eksportir batu bara terbesar dunia sejauh ini belum mampu mempunyai kekuatan dalam menentukan harga.

Penelitian terbaru Transisi Bersih (Financial Research Center for Clean Energy/FRCCE) menemukan adanya indikasi underpricing yang bersifat sistematis pada ekspor batu bara Indonesia. Efeknya, batu bara Indonesia diduga dijual di bawah harga wajarnya setelah memperhitungkan kualitas, kandungan energi, biaya logistik, dan waktu transaksi.

Direktur Eksekutif Transisi Bersih Abdurrahman Arum mengatakan, selama beberapa tahun lembaganya melakukan pengamatan, ketika Indonesia membuat kebijakan soal nikel, soal CPO, harga global itu langsung berubah.

"Ini merupakan indikator bahwa pemerintah kita itu memiliki kekuatan untuk memengaruhi harga pasar. Nah, inilah yang kita tekankan. Jadi, kekuatan kita memengaruhi harga pasar ini kita manfaatkan, kita jadikan leverage agar manfaat dari sumber daya alam itu lebih banyak mengalir ke dalam negeri, ke masyarakat," kata Rahman saat membuka diskusi hasil riset dan konferensi pers bertajuk "Reformasi Tata Kelola Ekspor: Mengakhiri Era Batu Bara Underpricing" via Zoom, Selasa (14/72026).  

Laporan riset Transisi Bersih berjudul "Mengurai Anomali Underpricing Ekspor Batu Bara Indonesia di Tengah Dominasi Pasar Batu Bara" ini menganalisis perdagangan batu bara Indonesia sepanjang 2020–2025 menggunakan pendekatan benchmark-adjusted price, perbandingan internasional, serta analisis struktur pasar global.

"Temuan utama penelitian ini sederhana, tetapi penting. Indonesia menguasai pasar batu bara kalori rendah dunia, namun belum mampu mengubah dominasi volume menjadi kekuatan harga. Akibatnya, nilai ekonomi yang diterima Indonesia tidak sebesar yang seharusnya," kata peneliti Transisi Bersih Muhammad Irfan Islami.

Halaman : 1 2 3
Advertisement
Advertisement