AALI
9725
ABBA
302
ABDA
5825
ABMM
1370
ACES
1255
ACST
184
ACST-R
0
ADES
3570
ADHI
810
ADMF
7600
ADMG
175
ADRO
2310
AGAR
360
AGII
1430
AGRO
1275
AGRO-R
0
AGRS
149
AHAP
69
AIMS
370
AIMS-W
0
AISA
172
AISA-R
0
AKKU
50
AKPI
1090
AKRA
710
AKSI
690
ALDO
1390
ALKA
292
ALMI
288
ALTO
260
Market Watch
Last updated : 2022/01/27 Data is a realtime snapshot, delayed at least 10 minutes
IDX30
507.19
-0.02%
-0.10
IHSG
6611.16
0.16%
+10.34
LQ45
947.02
0.02%
+0.16
HSI
23775.35
-2.12%
-514.55
N225
26170.30
-3.11%
-841.03
NYSE
16236.51
-0.64%
-103.81
Kurs
HKD/IDR 1,844
USD/IDR 14,383
Emas
837,385 / gram

Dubes Inggris untuk RI Paparkan Dua Hambatan Ekonomi Digital di Indonesia

ECONOMICS
Dominique Hilvy Febriani
Rabu, 24 November 2021 08:26 WIB
Ekonomi digital Indonesia diperkirakan bernilai USD133 miliar pada tahun 2025
Ekonomi Digital (Ilustrasi)
Ekonomi Digital (Ilustrasi)

IDXChannel - Duta Besar Inggris untuk Indonesia dan Timor Leste, Owen Jenkins mengatakan Peluncuran Program baru ESSENCE oleh Kedutaan Besar Inggris Jakarta melalui UK-Indonesia Tech Hub akan memberdayakan perempuan, anak muda dan masyarakat marginal dan komunitas rentan (termasuk penyandang disabilitas, dan komunitas HIV) untuk mengakses ekonomi digital, dan untuk memulai bisnis mereka sendiri.

Owen mengatakan, ekonomi digital Indonesia diperkirakan bernilai USD133 miliar pada tahun 2025. Menurutnya, dengan populasi yang muda dan besar, pemanfaatan digital yang tinggi, dan tradisi bisnis kecil yang dijalankan keluarga membuat Indonesia berada di posisi yang tepat untuk memanfaatkan ekonomi digital sepenuhnya.

Namun hambatan tetap ada. Pertama, tantangan Indonesia sebagai negara yang begitu besar, dan kebutuhan untuk menjangkau jauh melampaui Jakarta dan Jawa – ke seluruh Indonesia. 

“Pada tantangan pertama, dunia digital Indonesia semakin pesat, tetapi masih terpusat di Jawa dan Jakarta. Memiliki kemampuan untuk terhubung dan berpartisipasi dalam ekonomi digital dapat memberikan dampak yang lebih besar di daerah-daerah terpencil dengan populasi yang lebih sedikit, misalnya Indonesia Tengah dan Timur,” kata Owen dalam siaran pers Kedutaan Besar Inggris di Indonesia (23/11/2021).

Kedua, hambatan akses yang semakin mempersulit komunitas dan masyarakat marginal untuk mengikuti ekonomi digital.

“Pada tantangan kedua, perempuan, anak muda, dan masyarakat serta komunitas marginal, misalnya penyandang disabilitas, menghadapi kesulitan lebih untuk memasuki ekosistem digital,” pungkasnya.

Owen berujar, Inggris mendanai program baru yang dijalankan melalui 'UK-Indonesia Tech Hub' Kedutaan Besar Inggris di Jakarta untuk mengatasi tantangan ini. 

“Inggris bermitra dengan Archipelagic & Island States Forum (AIS Forum) dan United Nations Development Program (UNDP) untuk menyampaikan program baru melalui KUMPUL - pembangun ekosistem startup Indonesia, dan Yayasan Semesta Nusantara - sebuah LSM yang berfokus pada praktik berkelanjutan dan sosial dampak,” tuturnya.

“Inggris mendanai pekerjaan untuk membuat program pengembangan kapasitas hybrid (virtual & offline) yang disebut ESSENCE bagi lebih dari seribu penerima manfaat di Indonesia untuk mendukung Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) mereka di wilayah pesisir Indonesia dengan pelatihan pengembangan bisnis,” sambungnya.

Duta Besar Inggris untuk Indonesia dan Timor Leste Owen Jenkins mengatakan program ini dirancang untuk membekali para penerima manfaat dengan dasar-dasar literasi digital dan untuk mendukung start-up, sektor teknologi, pengusaha, dan bisnis mikro Indonesia guna memperkuat persahabatan dan perdagangan Inggris dan Indonesia dalam jangka panjang.

“Bisnis, seperti kita semua, harus menyesuaikan diri dengan New Normal. Memberdayakan komunitas terpencil, perempuan dan kelompok terpinggirkan untuk berpartisipasi penuh dalam ekonomi digital bukan hanya hal yang benar untuk dilakukan, tetapi salah satu langkah terbaik yang dapat diambil untuk mengurangi kemiskinan dan menciptakan kesejahteraan bagi semua. Kami berharap Inggris dapat mendukung transformasi digital Indonesia melalui program seperti ESSENCE,” ujarnya.

Representatif Residen UNDP Norimasa Shimomura mengatakan Pelatihan ini sangat berharga bagi mereka yang ingin sukses di dunia bisnis masa depan.

“Kami dapat mendukung UMKM yang terpinggirkan yang tinggal di wilayah pesisir di Indonesia untuk lebih cerdas digital, kita juga memiliki peluang besar untuk mengubah jalur pemulihan kita menjadi model bisnis yang lebih hijau dan berkelanjutan," sambung Owen.

Direktur Eksekutif Kumpul, Faye Scarlet Alund berharap program ini dapat membuktikan bahwa perempuan pengusaha dan penyandang disabilitas dapat memaksimalkan keterampilan dan pengetahuan mereka dengan akses dan pendampingan yang tepat.

“Tantangan utama bagi pengusaha di Indonesia, terutama bagi perempuan dan penyandang disabilitas, adalah akses. Akses untuk bergabung dengan program yang mendukung, pengembangan kapasitas, jaringan, dan ekosistem. Keterbatasan akses diperburuk oleh tantangan geografis. Terutama yang berada di Indonesia bagian tengah dan timur,” ujarnya.

Lebih dari 1000 orang dari Manado, Palu, Bali, Mandalika, Lombok, Pulau Timor, Sumba, Kupang, Ambon dan Papua dipilih untuk mengikuti program pelatihan daring selama 4 minggu mengenai literasi digital, keterampilan bisnis dan kewirausahaan, serta offline pelatihan di Kupang, Lombok atau Manado.

Peluncuran virtual akan dilaksanakan pada Rabu, 24 November 2021 pukul 13.00 WIB akan dihadiri oleh Duta Besar Inggris untuk Indonesia dan Timor Leste Owen Jenkins, Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Republik Indonesia, Resident Representative Program Pembangunan PBB Norimasa Shimomura dan para peserta program ESSENCE. (NDA)

link copied to clipboard
COPY TO CLIPBOARD