sosmed sosmed sosmed sosmed
get app
Advertisement

Dukung Ketahanan Energi, SKK Migas Prioritaskan Pasokan Gas untuk Kebutuhan Domestik

Economics editor Taufan Sukma Abdi Putra
17/08/2024 22:13 WIB
Kondisi tersebut telah berjalan sejak 2012, dan merupakan bagian dari upaya SKK Migas dalam memperkuat ketahanan  energi nasional.
Dukung Ketahanan Energi, SKK Migas Prioritaskan Pasokan Gas untuk Kebutuhan Domestik (foto: MNC Media)
Dukung Ketahanan Energi, SKK Migas Prioritaskan Pasokan Gas untuk Kebutuhan Domestik (foto: MNC Media)

IDXChannel - Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) memastikan bahwa pasokan gas untuk pasar domestik telah melebihi kebutuhan untuk ekspor.

Kondisi tersebut telah berjalan sejak 2012, dan merupakan bagian dari upaya SKK Migas dalam memperkuat ketahanan  energi nasional.

Hal tersebut disampaikan oleh Kepala Divisi Program dan Komunikasi (Prokom) SKK Migas, Hudi D Suryodipuro, sebagai salah satu sumbangsih besar industri migas dalam mendukung ketahanan energi nasional dan pembangunan bangsa.

"Selain itu, kegiatan usaha hulu migas, seperti pengeboran dan eksekusi proyek, juga turut menciptakan efek multiplier yang signifikan melalui penerapan Tingkat Kandungan Dalam Negeri (TKDN), yang mencapai 58 persen dari total belanja dan penyediaan lapangan kerja untuk150 ribu pekerja," ujar pada acara peringatan HUT RI ke-79, di Kantor Pusat SKK Migas Jakarta, Sabtu (17/8/2024).

Lebih lanjut, menurut Hudi, dalam peringatan HUT RI ke 79 ini, industri hulu migas telah memberikan sumbangsih nyata bagi bangsa dan negara.

Sumbangsih nyata tersebut antara lain kesuksesan kinerja eksplorasi dengan temuan eksplorasi di Geng North, Layaran, dan Tangkulo yang telah menempatkan Indonesia pada posisi teratas temuan eksplorasi di Asia Tenggara dalam dua tahun terakhir.

"Temuan ini  membuktikan  bahwa  potensi  subsurface Indonesia masih sangat menjanjikan," ujar Hudi.

Kedua, lanjut Hudi, upaya peningkatan produksi minyak melalui produksi dari Banyu Urip Infill Clastic atau BUIC. Sumur B-13 yang merupakan sumur pertama dari proyek ini telah memproduksikan minyak pada tanggal 9 Agustus 2024 lalu.

"Beberapa hari lalu kita juga menyaksikan pengapalan ke-1.000 minyak mentah dari Lapangan Banyu Urip. Kita berharap enam sumur berikutnya dari Proyek BUIC akan segera menyusul sehingga   kontribusi proyek ini untuk semakin mengangkat  profil produksi minyak nasional dapat terwujud," ujar Hudi.

Ketiga, pembangunan Teknologi Digital agar dapat bersaing di era kompetisi industri hulu migas global yang akan semakin ketat. Digitalisasi pengelolaan rantai suplai merupakan salah satu pilar Rencana Strategis hulu migas dan selaras   dengan arahan Pemerintah.

"Untuk itu, SKK Migas telah mengimplementasikan IOG E-Commerce yang dimulai untuk pengadaan  barang/peralatan dengan nilai sampai 1 miliar rupiah," ujar Hudi.

Selanjutnya, keempat, peningkatan efek multiplier melalui penandatanganan 10 GSA dengan total nilai USD1,2 miliar atau setara dengan Rp18,9 triliun, serta penandatanganan 8  Procurement  Contract senilai  USD428 juta, atau setara Rp6,4 triliun, yang dilakukan pada saat   pembukaan Supply Chain & National Capacity Summit, beberapa hari lalu.

Kelima, pemerataan ekonomi dan membuka lapangan kerja baru. Industri Hulu Migas melalui Program Pemberdayaan Masyarakat  (PPM) yang berorientasi untuk menciptakan kesejahteraan sosial.

"Pada tahun 2024 ini, telah diperoleh Kesepakatan Anggaran PPM sebesar USD35,38 Juta atau sebesar Rp530 Miliar, naik sebesar 127 persen dari 2023 yang sebesar USD27,7 Juta," ujar Hudi.

Keenam, industri Hulu Migas turut berkontribusi dalam upaya mengurangi emisi karbon. Industri hulu migas telah meluncurkan enam inisiatif   untuk pengurangan karbon. Selain program CCS, Energy management, Zero Routine Flaring dan lain-lain.

"Setiap tahun industri hulu migas menargetkan penanaman dua juta pohon dan sejak diluncurkannya renstra IOG 4.0 pada 2020 telah menanam 8.5 juta pohon," ujar Hudi.

Hudi mengakui, masih ada tantangan yang dihadapi oleh industri migas kedepan berupa ketertinggalan produksi migas nasional  dari  target yang ditetapkan.

Selain itu, terdapat gap yang sangat signifikan yang harus kita jembatani untuk mencapai target produksi Long Term Plan 1 juta BOPD dan 12 BSCFD.

"Untuk 2024, dari target produksi minyak LTP sebesar 709.000 BOPD, produksi baru mencapai 579.000 BOPD, artinya terdapat kekurangan sebesar 130.000 BOPD  yang  perlu  kita  atasi. Sedangkan untuk gas, target LTP untuk tahun 2024 adalah  6.736 MMSCFD,  tetapi  produksi  saat  ini hanya mencapai 5.334 MMSCFD, mengakibatkan selisih sebesar 1.402 MMSCFD yang masih perlu diisi," ujar Hudi.

Untuk menjawab tantangan tersebut, Hudi menekankan pentingnya kolaborasi antara para stakeholder industri migas.

"Mindset kolaborasi  dalam   melakukan pekerjaan transformasi  ini sangat penting, karena memang  kita harus bergerak secara bersama-sama untuk satu tujuan sehingga tidak bisa tidak, kita harus berkolaborasi. Sikap ego sektoral dan silo mentality hanya akan menjauhkan kita dari pencapaian target bersama," ujar Hudi.

Apalagi di tahun-tahun ke depan, lanjut Hudi, ada sejumlah target yang harus dicapai oleh industri migas, yaitu peningkatan Investasi. sebesar USD16,1 miliar, atau Rp242 Triliun, naik 17 persen dibandingkan 2023 yang lalu, yang  tercatat  sebesar USD13,7 miliar, atau sebesar Rp206 Triliun.

Kemudian peningkatan kegiatan pemboran pengembangan secara masif. Pada 2024 ini ditargetkan mampu mencapai 932 sumur, atau naik sebesar 388 persen dari realisasi tahun 2020 yang hanya mencapai 240 sumur.

Selain itu, target Portfolio Industri Hulu Migas hingga 2029 nanti, telah memiliki 141 Proyek dengan total investasi USD36,25 Miliar atau setara Rp543 Triliun, yang terdiri dari 6 Proyek Strategis Nasional dengan total investasi sebesar USD32.47 Miliar, atau sebesar Rp487 Triliun, dan 135 Proyek Non PSN, dengan nilai total nilai investasi sebesar USD3,78 Miliar atau sebesar Rp57 Triliun.

Hudi menegaskan, target tersebut dapat terwujud dengan kolaborasi dan dukungan dari semua stakeholder industri migas. Apalagi dengan dua temuan besar cadangan gas beberapa waktu lalu di Indonesia, membuat gairah investasi industri migas ikut meningkat. 

"Dengan melihat potensi ini, kita harus bergerak bersama untuk mewujudkan peningkatan produksi migas dan mencapai ketahanan energi nasional," ujar Hudi.

(taufan sukma)

Halaman : 1 2 3 4 5 6
Advertisement
Advertisement