sosmed sosmed sosmed sosmed
get app
Advertisement

Ekonomi RI Diperkirakan Masih Hadapi Tekanan dari Tingginya Harga Energi Global

Economics editor Kunthi Fahmar Sandy
14/05/2026 13:49 WIB
Ekonomi Indonesia menunjukkan daya tahan kuat dengan pertumbuhan sebesar 5,6 persen secara tahunan (year-on-year/yoy) pada kuartal pertama 2026.
Ekonomi RI Diperkirakan Masih Hadapi Tekanan dari Tingginya Harga Energi Global (FOTO:iNews Media Group)
Ekonomi RI Diperkirakan Masih Hadapi Tekanan dari Tingginya Harga Energi Global (FOTO:iNews Media Group)

IDXChannel - Di tengah eskalasi geopolitik global dan fluktuasi harga energi, ekonomi Indonesia menunjukkan daya tahan kuat dengan pertumbuhan sebesar 5,6 persen secara tahunan (year-on-year/yoy) pada kuartal pertama 2026. 

Angka ini membuktikan pertumbuhan tercepat sejak kuartal ketiga 2022. DBS Group Research menilai fundamental ekonomi Indonesia pada awal tahun masih sangat solid, meski tantangan volatilitas global pada semester kedua 2026 tetap perlu diantisipasi secara hati-hati.

Senior Economist DBS Bank Radhika Rao menuturkan, Indonesia memulai 2026 dengan fondasi ekonomi yang positif, namun risiko eksternal membuat proyeksi pertumbuhan tahunan perlu disesuaikan. 

“Indonesia memasuki 2026 dengan percaya diri didukung fundamental yang kuat. Namun, proyeksi pertumbuhan setahun penuh tetap perlu disesuaikan menjadi 5,1 persen (dari sebelumnya 5,3 persen) guna mengantisipasi risiko kenaikan harga energi global dan tekanan pada nilai tukar Rupiah,” ujar Radhika dalam risetnya Kamis (14/5/2026).

DBS Research menilai kuartal pertama 2026 kemungkinan menjadi titik tertinggi pertumbuhan ekonomi tahun ini. Ke depan, aktivitas ekonomi juga diperkirakan menghadapi tekanan dari tingginya harga energi global, volatilitas pasar keuangan, serta kebutuhan menjaga disiplin fiskal nasional.

"Stabilitas makroekonomi menjadi fondasi utama dalam menjaga ketahanan ekonomi Indonesia di tengah dinamika global saat ini," tuturnya.

Dari sisi pengambil kebijakan, pemerintah diperkirakan tetap berupaya menjaga defisit fiskal di bawah 3 persen terhadap PDB melalui pengendalian belanja, efisiensi program prioritas, serta optimalisasi penerimaan negara.

Selain itu, implementasi kebijakan yang konsisten, termasuk pelaksanaan Undang-Undang Cipta Kerja dan harmonisasi regulasi pusat-daerah, dinilai penting untuk menciptakan kepastian usaha dan meningkatkan kepercayaan investor.

Dia melanjutkan, menjaga stabilitas makroekonomi tetap menjadi faktor kunci dalam menopang pertumbuhan nasional, terutama melalui pengendalian inflasi dan disiplin fiskal yang konsisten.

Namun, kepastian dan konsistensi regulasi yang didukung komunikasi kebijakan akan menjadi faktor penting dalam menjaga sentimen pasar dan meningkatkan daya tarik investasi

(kunthi fahmar sandy)

Halaman : 1 2 3
Advertisement
Advertisement