AALI
12325
ABBA
196
ABDA
0
ABMM
3060
ACES
995
ACST
161
ACST-R
0
ADES
4830
ADHI
655
ADMF
8075
ADMG
180
ADRO
3150
AGAR
330
AGII
2010
AGRO
935
AGRO-R
0
AGRS
126
AHAP
62
AIMS
232
AIMS-W
0
AISA
157
AISA-R
0
AKKU
50
AKPI
925
AKRA
1005
AKSI
224
ALDO
900
ALKA
302
ALMI
280
ALTO
208
Market Watch
Last updated : 2022/05/23 Data is a realtime snapshot, delayed at least 10 minutes
IDX30
535.20
-1.33%
-7.19
IHSG
6840.78
-1.12%
-77.37
LQ45
1002.57
-1.24%
-12.61
HSI
20470.06
-1.19%
-247.18
N225
27001.52
0.98%
+262.49
NYSE
15080.98
0.3%
+45.11
Kurs
HKD/IDR 1,866
USD/IDR 14,657
Emas
875,169 / gram

Ekonomi RI Tumbuh 3,51 Persen, Airlangga Ungkap Situasi Pandemi Makin Terkendali

ECONOMICS
Rina Anggraeni
Sabtu, 06 November 2021 08:15 WIB
Berikut Pertumbuhan ekonomi Indonesia pada Triwulan III-2021 tercatat tumbuh positif 3,51% yoy.
Ekonomi RI Tumbuh 3,51 Persen, Airlangga Ungkap Situasi Pandemi Makin Terkendali (Dok.MNC Media)
Ekonomi RI Tumbuh 3,51 Persen, Airlangga Ungkap Situasi Pandemi Makin Terkendali (Dok.MNC Media)

IDXChannel - Pertumbuhan ekonomi Indonesia pada Triwulan III-2021 tercatat tumbuh positif 3,51% (yoy) atau 1,55% (qtq). Hal tersebut merupakan hasil dari respon cepat Pemerintah dalam mengendalikan lonjakan kasus varian delta pada awal Triwulan III-2021 dapat memperkuat kembali momentum pemulihan ekonomi nasional.

Menteri Koordinator Perekokomian Airlangga Hartato mengatakan, situasi pandemi yang mulai terkendali telah mendorong peningkatan aktivitas ekonomi domestik. Konsumsi rumah tangga tumbuh sebesar 1,03% (yoy) dan konsumsi Lembaga Non-Profit yang Melayani Rumah Tangga tumbuh sebesar 2,96% (yoy). Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) juga tumbuh sebesar 3,74% (yoy) sejalan dengan meningkatnya kapasitas produksi dunia usaha. “Efektivitas penerapan kebijakan PPKM dan akselerasi vaksinasi menjadi penopang utamanya,” ujar Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto di Jakarta,  Sabtu (6/11/2021). 

Pemulihan permintaan global dan meningkatnya harga komoditas global juga mendorong aktivitas perdagangan internasional Indonesia. Ekspor tumbuh sebesar 29,16% (yoy) dan impor tumbuh sebesar 30,11%(yoy) pada Triwulan III-2021. Neraca perdagangan Indonesia juga terus berlanjut mengalami surplus selama 17 bulan berturut-turut, hingga akhir September 2021. Strategi kebijakan Pemerintah selama pandemi dalam menjaga pasokan ekspor kedua komoditas utama, yakni batubara dan CPO, turut memberikan kontribusi positif. Selain itu, terjaganya ketersediaan pasokan dalam negeri juga menjadi kunci menjaga momentum ekspor di tengah kenaikan harga.

“Penguatan permintaan domestik pasca lonjakan kasus varian delta berhasil mendorong kinerja di beberapa sektor utama pada Triwulan III-2021”, ungkap Menko Airlangga. 

Sektor Industri Pengolahan sebagai kontributor terbesar Produk Domestik Bruto tumbuh positif sebesar 3,68% (yoy). Sektor utama lainnya juga tumbuh signifikan, antara lain Sektor Perdagangan dan Pertambangan yang masing-masing tumbuh sebesar 5,16% (yoy) dan 7,78% (yoy). Sementara, Sektor Transportasi dan Pergudangan serta Akomodasi dan Mamin mengalami kontraksi akibat pengetatan kebijakan PPKM sebagai upaya mitigasi lonjakan kasus varian delta di awal Triwulan III-2021. Sektor informasi dan komunikasi serta jasa kesehatan yang memiliki peranan penting pada masa pandemi juga kembali melanjutkan penguatan pertumbuhan. Sektor jasa kesehatan mengalami pertumbuhan paling tinggi di Triwulan III-2021, yakni sebesar 14,06% (yoy).

Pulihnya berbagai sektor usaha di Triwulan III-2021 juga mendorong peningkatan penyerapan tenaga kerja.  Per Agustus 2021, Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja meningkat menjadi 67,80% dan Tingkat Pengangguran Terbuka menurun menjadi 6,49%, lebih baik dibandingkan tahun 2020. Sektor Industri Pengolahan menjadi sektor usaha yang mengalami peningkatan penyerapan tenaga kerja paling besar. Selain itu, keyakinan dunia usaha untuk mulai merekrut pegawai juga tercermin dari peningkatan persentase komposisi penduduk bekerja di kegiatan formal sebesar 1,02% (dibandingkan Agustus 2020). Secara umum, upaya pengendalian pandemi telah berhasil menurunkan jumlah penduduk usia kerja yang terdampak Covid-19 menjadi sebesar 21,32 juta orang di Agustus 2021, lebih baik dibandingkan tahun lalu.

Secara spasial, mayoritas wilayah di Indonesia melanjutkan pertumbuhan positif pada Triwulan III-2021. Pulau Jawa dan Sumatera sebagai kontributor perekonomian nasional masing-masing mampu tumbuh positif sebesar 3,03% (yoy) dan 3,78% (yoy). Pencapaian ini juga terjadi pada pulau Kalimantan, Sulawesi, serta Maluku dan Papua. Hanya pulau Bali dan Nusa Tenggara yang masih mengalami kontraksi sebesar -0,09% (yoy) yang diakibatkan belum pulihnya sektor pariwisata sebagai dampak pembatasan aktivitas masyarakat.

Menko Airlangga juga menjelaskan bahwa untuk prospek ke depan, sejalan dengan konsistensi penurunan kasus harian Covid-19 yang terus terjadi, Pemerintah melakukan pelonggaran PPKM secara lebih luas namun tetap dalam pengawasan dan penerapan protokol Covid-19 secara disiplin. Kondisi yang kondusif ini memungkinkan permintaan bertumbuh dan perekonomian terus mengalami pemulihan. Hal ini diharapkan akan berdampak positif pada beberapa indikator utama yang menunjukkan prospek baik bagi ekonomi.

Lebih lanjut, peningkatan efektivitas pengendalian Covid-19 dan berlanjutnya berbagai program pemulihan ekonomi diperkirakan mampu menjaga momentum pemulihan ekonomi. Dengan demikian, permintaan domestik pada sisa akhir tahun 2021 akan tetap menguat, seperti yang tercermin dari Indeks Keyakinan Konsumen yang terus membaik serta penjualan kendaraan bermotor yang diperkirakan tetap tumbuh. Sejalan dengan itu, aktivitas dunia usaha juga diperkirakan akan terus membaik, tercermin dari pertumbuhan PMTB yang cukup tinggi, bahkan level Purchasing Managers’ Index (PMI) Indonesia pada Oktober 2021 telah menembus rekor tertinggi sejak April 2011 dengan berada di level ekspansif sebesar 57,2. Level PMI Indonesia menggambarkan kondisi aktivitas usaha yang kembali menggeliat di seluruh sektor manufaktur Indonesia. Level PMI Indonesia tersebut juga lebih tinggi dibanding negara-negara di ASEAN lainnya, seperti Malaysia (52,2), Vietnam (52,1), Thailand (50,9), dan Myanmar (43,3).

Prospek baik perekonomian Indonesia ke depan juga didukung oleh kerja sama internasional yang terus diupayakan oleh Pemerintah. Dalam serangkaian pertemuan Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) G20 di Roma Italia, KTT COP26 di Glasgow-Skotlandia, serta kunjungan kerja ke Persatuan Emirat Arab, Pemerintah terus mendorong pemulihan dan pembangunan ekonomi yang berkelanjutan. Berbagai kerjasama tersebut juga diyakini dapat memicu peningkatan investasi melalui berbagai skenario seperti Sovereign Wealth Fund INA, kerja sama energi terbarukan, ritel dan infrastruktur pelabuhan dan jalan tol, kerja sama kesehatan, serta teknologi digital.

Memperhatikan berbagai leading indicator di awal Triwulan-IV 2021 ini, pola pemulihan terlihat menyerupai tren pada Triwulan-II lalu. Ditambah dengan berbagai indikator kesehatan yang terus membaik serta diiringi dengan kebijakan dan strategi Pemerintah yang tepat, pemulihan ekonomi diyakini memiliki prospek yang positif. Dengan prospek positif tersebut, pertumbuhan ekonomi Indonesia diperkirakan akan berada di atas level 5% pada Triwulan ke-IV tahun 2021 dan mampu mencapai target pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan ke depannya

(IND) 

link copied to clipboard
COPY TO CLIPBOARD