AALI
9925
ABBA
290
ABDA
7000
ABMM
1380
ACES
1275
ACST
194
ACST-R
0
ADES
3400
ADHI
840
ADMF
7625
ADMG
188
ADRO
2310
AGAR
364
AGII
1390
AGRO
1325
AGRO-R
0
AGRS
163
AHAP
70
AIMS
362
AIMS-W
0
AISA
175
AISA-R
0
AKKU
50
AKPI
1100
AKRA
800
AKSI
755
ALDO
1375
ALKA
314
ALMI
288
ALTO
258
Market Watch
Last updated : 2022/01/21 Data is a realtime snapshot, delayed at least 10 minutes
IDX30
513.72
1.77%
+8.94
IHSG
6726.37
1.5%
+99.50
LQ45
959.76
1.74%
+16.42
HSI
24965.55
0.05%
+13.20
N225
27522.26
-0.9%
-250.67
NYSE
0.00
-100%
-16818.98
Kurs
HKD/IDR 1,840
USD/IDR 14,345
Emas
847,450 / gram

Erick Thohir Mau Jual BUMN Harus Izin DPR

ECONOMICS
Oktiani Endarwati
Selasa, 23 November 2021 12:53 WIB
Menteri BUMN Erick Thohir berencana menjual BUMN yang memiliki pendapatan kurang dari Rp50 miliar setahun.
Erick Thohir Mau Jual BUMN Harus Izin DPR (FOTO: MNC Media)
Erick Thohir Mau Jual BUMN Harus Izin DPR (FOTO: MNC Media)

IDXChannel - Menteri BUMN Erick Thohir berencana menjual BUMN yang memiliki pendapatan kurang dari Rp50 miliar setahun. Namun, langkah tersebut harus mendapatkan izin dari Dewan Perwakilan Rakyat (DPR).

Pengamat BUMN dari Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (UI) Toto Pranoto mengatakan, tujuan penjualan perusahaan BUMN harus jelas dan transparan. 

Sebelumnya, keinginan Erick menjual BUMN karena, BUMN dengan pendapatan kurang dari Rp50 miliar belum mampu bersaing di pasar global. 

"Memang perlu ada approval bukan hanya dari sisi pemerintah, tetapi juga dari DPR. Jadi menurut saya yang pertama penjelasannya harus clear maksud dan tujuan melakukan kegiatan ini apa," ujarnya dalam Market Review IDX Channel, Selasa (23/11/2021).

Toto melanjutkan, rencana untuk menjual BUMN ini harus ditinjau dari dua sisi. Pertama, seberapa strategis produk dan jasa yang dimiliki oleh BUMN. Kedua, dari tingkat kesehatan BUMN.

Menurut dia, masalah BUMN sekarang justru di arah sebaliknya dimana dulu mereka datang sebagai pionir di bidang produk dan jasa tertentu karena belum ada pelaku bisnis lain, namun sekarang sudah banyak pemain yang bergerak di bidang yang sama.

"Idealnya BUMN itu sebagai kontributor. Artinya produk dan jasanya betul-betul dibutuhkan publik dan tingkat kesehatannya juga berimbang," ungkapnya.

Dia menuturkan, dari tingkat kesehatan BUMN juga perlu diperhatikan produk dan jasa yang dijual agar bisa bersaing dengan pemain lain.

"Jadi kalau wacananya menutup BUMN dengan pendapatan di bawah Rp50 miliar, menurut saya karena produk dan jasanya sudah bisa digantikan dengan pelaku bisnis yang lain. Kemudian sebagian kondisi internal kesehatannya jga tidak cukup prima sehingga mungkin lebih baik BUMN dalam klaster seperti ini di take over sama yang lain," tuturnya. (RAMA)

link copied to clipboard
COPY TO CLIPBOARD