Pemerintah menargetkan pertumbuhan ekonomi tahunan sebesar 5,5 persen hingga 5,6 persen (yoy), di mana konsumsi rumah tangga memegang peranan krusial sebesar 53 persen hingga 54 persen terhadap PDB.
Untuk mencapai target tersebut, sejumlah stimulus telah dikucurkan menjelang Idulfitri 2026 yakni Stimulus Fiskal dengan alokasi lebih dari Rp12,8 triliun, Bantuan Sosial penyaluran Rp11,92 triliun kepada 5,04 juta Keluarga Penerima Manfaat (KPM), dan Diskon Transportasi subsidi senilai Rp911,16 miliar.
Inovasi kebijakan seperti Work From Anywhere (WFA) bagi ASN juga dinilai efektif memperpanjang durasi tinggal pemudik di kampung halaman, yang secara otomatis meningkatkan perputaran uang (velocity of money) di daerah.
Meskipun dunia sedang dibayangi ketegangan geopolitik antara Iran dan Israel-AS, pemerintah meyakini fundamental ekonomi domestik tetap kokoh. Kebijakan untuk tidak menaikkan harga BBM saat ini menjadi kunci utama dalam menjaga daya beli masyarakat selama masa lebaran.
“Meski ada tekanan global akibat konflik Iran dan Israel-AS, fundamental ekonomi kita tetap kuat. Selain itu, pemerintah berkomitmen tidak menaikkan harga BBM saat ini, sehingga daya beli masyarakat tetap terjaga. Untuk Idulfitri tahun ini diprediksi kita optimis ekonomi bisa lebih baik dari tahun sebelumnya,” kata Haryo.