AALI
12925
ABBA
197
ABDA
0
ABMM
3280
ACES
1010
ACST
163
ACST-R
0
ADES
4830
ADHI
670
ADMF
8050
ADMG
187
ADRO
3310
AGAR
354
AGII
1975
AGRO
960
AGRO-R
0
AGRS
127
AHAP
61
AIMS
244
AIMS-W
0
AISA
160
AISA-R
0
AKKU
50
AKPI
930
AKRA
1025
AKSI
232
ALDO
925
ALKA
298
ALMI
280
ALTO
204
Market Watch
Last updated : 2022/05/20 Data is a realtime snapshot, delayed at least 10 minutes
IDX30
542.40
0.61%
+3.27
IHSG
6918.14
1.39%
+94.81
LQ45
1015.18
0.69%
+6.97
HSI
20717.24
2.97%
+596.56
N225
26739.03
1.27%
+336.19
NYSE
0.00
-100%
-15044.52
Kurs
HKD/IDR 1,866
USD/IDR 14,664
Emas
870,562 / gram

Gawat, Serangan Siber ke Lembaga di Indonesia Lebih Tinggi 754 Persen dari Global

ECONOMICS
Dyah Ratna Meta
Kamis, 16 September 2021 11:28 WIB
Tercatat bahwa organisasi di Indonesia mengalami 746% lebih banyak serangan siber dari rata-rata global.
Gawat, Serangan Siber ke Lembaga di Indonesia Lebih Tinggi 754 Persen dari Global (Dok.MPI)
Gawat, Serangan Siber ke Lembaga di Indonesia Lebih Tinggi 754 Persen dari Global (Dok.MPI)

IDXChannel - Selama enam bulan terakhir, organisasi di Indonesia mengalami 746% lebih banyak serangan siber dari rata-rata global. Ini terjadi di tengah maraknya perusahaan memberlakukan WFH.

Deon Oswari selaku Country Manager Indonesia, Check Point Software mengatakan, di antara ancaman siber yang paling sering dihadapi yakni Remote Code Execution, yang berdampak pada 62% organisasi dalam 6 bulan terakhir. 

"Remote Code Execution adalah serangan siber yang terjadi ketika penyerang mengeksekusi perintah dari jarak jauh terhadap perangkat korban atau target, biasanya setelah host mengunduh malware berbahaya," ujar Deon, Kamis, (16/8/2021).

Menurut Deon, Check Point Threat Intelligence Report juga mengungkapkan, tiga industri yang paling terdampak di Indonesia adalah bidang pemerintah atau militer, manufaktur, dan perbankan, yang masing-masing menerima 686%, 403%, dan 313% lebih banyak serangan per minggunya jika dibandingkan dengan rata-rata global pada setiap sektor.

Di tengah pandemi, peralihan ke kerja dari rumah (remote working) telah mempercepat 'transformasi digital' di Indonesia. Oleh karena itu, para pelaku kejahatan siber telah mengadaptasi praktik kerja mereka dengan cara memanfaatkan peralihan ini untuk membidik jaringan distribusi perusahaan dan jaringan mitra-mitra organisasi, untuk mencapai kerusakan maksimal.

"Banyak organisasi di Indonesia rentan terhadap serangan siber karena mereka tidak memiliki perlindungan yang memadai, atau masih bergantung pada teknologi yang sudah ketinggalan. Oleh karena itu, organisasi di Indonesia sebaiknya meninjau kembali strategi keamanan siber dan kesterilan sistem keamanan mereka untuk menghindari menjadi korban dari kebocoran besar," jelas Deon.

Dalam 2 tahun terakhir, Indonesia telah mengalami beberapa kebocoran tingkat tinggi. Pada bulan Juni 2020, lebih dari 230.000 data pasien Covid-19 Indonesia telah bocor.

Data yang bocor meliputi nama pasien, alamat, nomor telepon, kewarganegaraan, tanggal diagnosis, hasil, dan masih banyak lagi. 

(IND) 

link copied to clipboard
COPY TO CLIPBOARD