AALI
9350
ABBA
278
ABDA
0
ABMM
2500
ACES
720
ACST
169
ACST-R
0
ADES
6175
ADHI
745
ADMF
8125
ADMG
173
ADRO
3140
AGAR
314
AGII
2340
AGRO
845
AGRO-R
0
AGRS
116
AHAP
83
AIMS
246
AIMS-W
0
AISA
151
AISA-R
0
AKKU
50
AKPI
1545
AKRA
1180
AKSI
270
ALDO
775
ALKA
292
ALMI
0
ALTO
193
Market Watch
Last updated : 2022/08/10 Data is a realtime snapshot, delayed at least 10 minutes
IDX30
536.47
-0.12%
-0.62
IHSG
7086.24
-0.23%
-16.64
LQ45
1007.80
-0.09%
-0.91
HSI
19610.84
-1.96%
-392.60
N225
27819.33
-0.65%
-180.63
NYSE
0.00
-100%
-15305.80
Kurs
HKD/IDR 195
USD/IDR 14,872
Emas
856,617 / gram

Harga BBM Mahal, Perusahaan AS Terapkan WFH

ECONOMICS
Yulistyo Pratomo
Jum'at, 24 Juni 2022 20:19 WIB
Harga bahan bakar minyak (BBM) di Amerika Serikat (AS) terus meningkat. Kondisi ini terjadi sejak inflasi mulai menerjang negara tersebut.
Harga BBM Mahal, Perusahaan AS Terapkan WFH. (Foto: MNC Media)
Harga BBM Mahal, Perusahaan AS Terapkan WFH. (Foto: MNC Media)

IDXChannel - Harga bahan bakar minyak (BBM) di Amerika Serikat (AS) terus meningkat. Kondisi ini terjadi sejak inflasi mulai menerjang negara tersebut, hingga mencapai titik tertinggi di angka 75 persen pada Mei 2022 lalu.

Kondisi itu membuat sejumlah perusahaan di AS memutar otak demi mengurangi biaya operasional. Seperti yang dilakukan oleh Operations Inc, sebuah perusahaan konsultan human resources yang berlokasi di Norwalk, Connecticut.

Sang CEO, David Lewis, pernah membagi-bagikan kartu pembelian BBM kepada karyawannya pada 2009 lalu ketika harga bensin mencapai USD4 per galon. Berbeda dengan saat itu, dia justru memili opsi lain, yakni menerapkan work from home alias bekerja dari rumah.

"Ini merupakan perkembangan yang tidak diinginkan bagi perusahaan-perusahaan yang mencoba untuk membuat orang kembali ke kantor. Ini adalah satu lagi alasan yang masuk akal mengapa para karyawan itu mundur,” kata Lewis, seperti dikutip dari AP, Jumat (24/6/2022).

Lewis mengaku mempekerjakan sekitar 100 karyawan di kantornya.

Sebelum pandemi Covid-19, dia sudah menerapkan 85 persen dari karyawannya untuk bekerja di kantor setidaknya dua hari dalam seminggu. Sekarang, mungkin 25 persen saja. Lewis -dan banyak kliennya- ingin lebih sering bertemu dengan karyawan di kantor namun sekali lagi mahalnya harga bensin menjadi sebuah penghalang.

Lain lagi dengan seorang profesor psikologi bernama Brian Cesario. Dulu tinggal dalam jarak berjalan kaki dari kampus tempat dia mengajar. Tapi tahun lalu, dia memilih pindah ke rumah yang 55 mil jauhnya ke Hopewell Junction, New York.

Cesario mengajar dari jarak jauh bahkan sebelum pandemi dan berasumsi dia akan terus melakukannya. Melandainya kasus Covid-19 membuat kampus tempatnya bekerja mewajibkan dia untuk bertatap muka dengan mahasiswanya.

Kebijakan itu membuatnya merasa keberatan, sebab dia harus membayar USD240 atau setara dengan Rp3,57 juta per bulan hanya untuk bensin. Cesario mengaku tidak menghasilkan cukup uang untuk itu, alhasil dia mencari pekerjaan yang sepenuhnya jauh di luar akademis. (TYO)

link copied to clipboard
COPY TO CLIPBOARD