Dia menilai pengusaha warteg berada dalam posisi yang cukup rentan. Pasalnya, mereka tidak memiliki ruang yang besar untuk menaikkan harga makanan karena mayoritas konsumennya berasal dari kelompok masyarakat yang sensitif terhadap perubahan harga.
"Sebagai salah satu pilar jaring pengaman pangan murah bagi masyarakat perkotaan, para pengusaha warteg menitipkan beberapa harapan besar kepada pemerintah," tuturnya.
Mukroni meminta pemerintah melalui Perum Bulog dan instansi terkait untuk memastikan pasokan serta harga bahan pangan tetap terkendali dan tidak mengalami kenaikan yang berlebihan akibat sentimen kenaikan BBM. Selain itu, Kowantara juga berharap pemerintah memberikan stimulus bagi pelaku usaha kuliner mikro.
Bentuk dukungan yang diharapkan antara lain kemudahan akses pembiayaan melalui Kredit Usaha Rakyat (KUR) serta program digitalisasi rantai pasok agar pelaku warteg dapat memperoleh bahan baku langsung dari produsen atau petani dengan harga yang lebih kompetitif.
"Berharap ada kelonggaran atau program stimulus khusus bagi sektor kuliner mikro, seperti kemudahan akses modal usaha KUR atau program digitalisasi rantai pasok agar warteg bisa mendapatkan bahan baku langsung dari produsen/petani dengan harga murah," kataya.