Padahal, kata dia, panas bumi memiliki keunggulan karena mampu menghasilkan listrik secara kontinu selama 24 jam. Karakteristik tersebut membuat panas bumi berpotensi bersaing dengan pembangkit berbahan bakar fosil.
"Rasanya memang panas bumi yang kita kenal ini nantinya sangat bisa bersaing dengan diesel, sangat bisa bersaing dengan bahan bakar, bahan bakar dari fosil, ya, batubara ataupun diesel, karena 24 jam bisa menghadirkan listrik," kata Eniya.
Pemerintah menargetkan kapasitas panas bumi meningkat sekitar 5,2 gigawatt sehingga porsinya dalam bauran energi baru terbarukan dapat mencapai 4,5 persen.
Namun, pencapaian target tersebut masih akan sangat bergantung pada kemampuan pemerintah dan pelaku usaha menyelesaikan persoalan tarif, biaya investasi, serta kelayakan pembiayaan proyek.
Dengan potensi yang besar tetapi pemanfaatan yang masih rendah, persoalan keekonomian menjadi salah satu kunci agar panas bumi Indonesia tidak hanya unggul dari sisi sumber daya, tetapi juga mampu berkembang secara komersial.
(Dhera Arizona)