Sementara itu, rata-rata biaya pembangkitan untuk mencapai keekonomian PLTP berada di kisaran USD11,4-14,5 sen per kWh. Bahkan untuk pembangkit dengan kapasitas kurang dari 10 MW, biaya keekonomiannya dapat mencapai USD13,5-15,5 sen per kWh.
Kesenjangan tersebut membuat pengembang menghadapi tantangan untuk mendapatkan tingkat pengembalian investasi yang menarik. Kondisi itu juga berdampak pada kemampuan proyek untuk memperoleh pembiayaan dari perbankan.
Julfi mengatakan terdapat dua pendekatan yang dapat dilakukan untuk membuat pembangkit panas bumi lebih kompetitif. Pertama, menyesuaikan tarif listrik yang dibeli PLN sehingga proyek memiliki tingkat pengembalian yang layak.
Kedua, menekan atau meningkatkan efisiensi struktur capex melalui penggunaan teknologi baru, penguatan manufaktur dalam negeri, efisiensi dan peningkatan volume pengeboran, serta peningkatan produktivitas sumur.
Menurut dia, menaikkan tarif listrik menjadi pilihan yang relatif lebih mudah untuk membuat perhitungan bisnis PLTP menjadi layak. Sementara upaya menekan biaya investasi membutuhkan perubahan teknologi, efisiensi operasional, hingga model bisnis baru.