Ia menjelaskan, lonjakan harga minyak juga memengaruhi kebijakan bank sentral di berbagai negara. Sejumlah otoritas moneter yang sebelumnya bersiap menurunkan suku bunga akhirnya memilih menahan, bahkan mempertimbangkan kembali kenaikan suku bunga guna mengendalikan inflasi yang dipicu kenaikan harga energi.
Selain berdampak pada harga bahan bakar di berbagai negara, kenaikan harga minyak turut meningkatkan biaya avtur yang digunakan maskapai penerbangan. Sementara di Indonesia, pemerintah masih berupaya meredam dampak kenaikan tersebut, termasuk pada harga BBM nonsubsidi yang penyesuaiannya dilakukan secara bertahap.
Meski demikian, Emil menilai gejolak yang terjadi saat ini belum dapat dikategorikan sebagai perubahan struktural dalam perekonomian global. Menurutnya, tekanan tersebut berpotensi mereda apabila konflik geopolitik berhasil diselesaikan sehingga harga minyak kembali turun.
"Jadi kalau ditanya apakah ini menjadi sesuatu yang struktural? Di tahap ini kita belum percaya ini struktural. Karena kalau misalkan konfliknya berakhir, katanya Trump mau mengadakan deal ya antara hari ini atau besok gitu, let's see. Kalau misalkan deal-nya terjadi, mungkin harga minyak turun, harga-harga BBM turun, sehingga tekanan terhadap Indonesia juga bisa jadi akan berkurang," lanjut Emil.
Ia menambahkan volatilitas pasar yang tinggi selama enam bulan pertama tahun ini berpeluang menurun apabila ketegangan geopolitik mereda. Dengan demikian, tekanan terhadap dunia usaha maupun masyarakat diharapkan tidak berlanjut dalam jangka panjang.