IDXChannel - Menteri Perhubungan (Menhub) Dudy Purwagandhi memproyeksikan konflik geopolitik di Timur Tengah, khususnya antara Amerika Serikat (AS) dan Iran, berpotensi mendorong kenaikan harga tiket pesawat. Hal ini dipicu oleh tingginya ketergantungan industri penerbangan terhadap bahan bakar avtur yang sangat sensitif terhadap gejolak global.
Dudy menjelaskan, komponen biaya bahan bakar pesawat atau avtur memiliki porsi besar dalam struktur biaya operasional maskapai. Bahkan, kontribusinya mencapai sekitar 27,6 persen dari total biaya penerbangan.
"Komponen biaya avtur memakan (porsi) sekitar 27,6 persen, jadi cukup tinggi. Dan dia sangat volatile, sangat terpengaruh dengan kondisi yang tidak hanya di dalam negeri tapi juga kondisi-kondisi global," ujar Dudy dalam Media Briefing di Jakarta, dikutip Minggu (8/3/2026).
Dia menerangkan, ketergantungan Indonesia terhadap impor energi membuat sektor transportasi udara sangat rentan terhadap dinamika geopolitik internasional. Ketika terjadi krisis di kawasan Timur Tengah, dampaknya bisa langsung terasa pada harga bahan bakar penerbangan.
"Kalau seperti sekarang misalnya terjadi krisis di Timur Tengah, itu berpengaruh. Karena kita sangat tergantung dengan impor, maka kita akan langsung terasa dampaknya," katanya.
Meski demikian, Dudy memastikan kondisi pasokan bahan bakar penerbangan masih relatif aman dalam jangka pendek, termasuk untuk menghadapi periode angkutan Lebaran tahun ini. "Alhamdulillah sampai Lebaran nanti, cadangan avtur atau BBM kita masih cukup," ujarnya.
Lebih jauh, Dudy menilai situasi geopolitik global saat ini menjadi pengingat penting bagi Indonesia untuk memperkuat ketahanan energi nasional. Menurutnya, ketergantungan terhadap pasokan dari luar negeri perlu dikurangi agar dampak krisis global tidak terlalu besar terhadap sektor transportasi maupun perekonomian secara umum.
"Yang perlu kita pikirkan ke depan bukan sekadar mencari tiket murah, tapi bagaimana kita bisa menyediakan kebutuhan energi kita secara mandiri sehingga tidak terlalu tergantung kepada pihak luar," kata dia.
Dia menambahkan, pemerintah bersama Dewan Energi Nasional (DEN) juga terus membahas langkah strategis untuk memperkuat ketahanan energi dalam jangka panjang. "Konflik-konflik di luar negeri sekarang ini mengajarkan bahwa kita memang harus punya ketahanan energi, ketahanan pangan, dan berbagai sektor strategis lainnya," ujar Dudy.
Sebagai tambahan informasi, harga minyak mentah menyentuh level USD92 per barel pada perdagangan Sabtu (7/3/2025). Mengutip informasi laman oil price, harga minyak mentah berjangka Brent naik 8,52 persen ke level USD92,69 per barel. Sementara harga minyak mentah berjangka WTI AS naik 12,2 persen menjadi USD90,9 per barel.
(Dhera Arizona)