Berdasarkan rekam data otoritas statistik, Ateng mengungkapkan, struktur impor menurut profil penggunaannya pada Mei 2026 mengalami pertumbuhan merata di semua lini barang secara tahunan. Hal ini mengindikasikan adanya peningkatan aktivitas pada sektor manufaktur domestik serta penguatan konsumsi masyarakat.
Kenaikan tertinggi dicatatkan oleh pasokan penolong industri, disusul oleh barang pemenuhan kebutuhan masyarakat serta kebutuhan investasi modal kerja korporasi.
"Barang konsumsi naik 21,99 persen, bahan baku penolong naik 25,17 persen dengan andil 17,41 persen, dan impor barang modal naik 12,70 persen," ujar Ateng.
Secara kumulatif sepanjang periode Januari-Mei 2026, total nilai impor yang masuk ke dalam negeri telah mengonfirmasi angka agregat sebesar USD111,33 miliar. Perolehan kuantum tersebut tumbuh sebesar 15,24 persen dibandingkan lini masa yang sama pada tahun lalu.
Arus modal impor sepanjang lima bulan pertama ini masih didominasi secara mutlak oleh kelompok nonmigas, sementara klaster migas mencatatkan laju pertumbuhan yang paling ekspansif akibat dinamika harga energi global.
"Impor kumulatif didominasi oleh impor nonmigas sebesar USD93,88 miliar atau naik 13,16 persen. Sementara itu, impor migas tumbuh 27,89 persen menjadi USD17,45 miliar," kata dia.
(Dhera Arizona)