AALI
9800
ABBA
188
ABDA
0
ABMM
2360
ACES
780
ACST
170
ACST-R
0
ADES
7375
ADHI
815
ADMF
8100
ADMG
177
ADRO
2970
AGAR
318
AGII
1950
AGRO
765
AGRO-R
0
AGRS
122
AHAP
57
AIMS
254
AIMS-W
0
AISA
152
AISA-R
0
AKKU
50
AKPI
1640
AKRA
1060
AKSI
294
ALDO
855
ALKA
294
ALMI
292
ALTO
228
Market Watch
Last updated : 2022/06/24 Data is a realtime snapshot, delayed at least 10 minutes
IDX30
544.03
0.56%
+3.01
IHSG
7042.94
0.64%
+44.67
LQ45
1018.99
0.57%
+5.77
HSI
21719.06
2.09%
+445.19
N225
26491.97
1.23%
+320.72
NYSE
14402.12
0.34%
+49.32
Kurs
HKD/IDR 1,889
USD/IDR 14,845
Emas
873,761 / gram

Ini Karakter Masyarakat yang Bikin Lonjakan Kasus Covid-19 di Eropa

ECONOMICS
Hasyim Ashari
Jum'at, 03 Desember 2021 07:21 WIB
WHO telah menetapkan Eropa sebagai episenter kasus Covid-19. Hal ini karena melonjaknya kasus infeksi yang berlangsung secara eksponensial.
Ini Karakter Masyarakat yang Bikin Lonjakan Kasus Covid-19 di Eropa (FOTO:MNC Media)
Ini Karakter Masyarakat yang Bikin Lonjakan Kasus Covid-19 di Eropa (FOTO:MNC Media)

IDXChannel - WHO telah menetapkan Eropa sebagai episenter kasus Covid-19. Hal ini karena melonjaknya kasus infeksi yang berlangsung secara eksponensial. 

Saat ini sejumlah negara di Eropa telah melakukan lockdown dalam upaya menurunkan jumlah kasus infeksi. 

Spesialis Mikrobiologi dan Anggota Bidang Penanganan Kesehatan dan Panel Ahli Satgas Penanganan Covid-19 BNPB, Dr. dr. Budiman Bela, Sp.MK(K) mengatakan, bahwa setiap negara memiliki protokolnya sendiri. Menariknya karakter masyarakat sangat berpengaruh karena berbeda satu sama lain. 

"Ada yang mudah mengikuti mainstream, atau mudah mengikuti anjuran yang dirasa benar, bahkan ada yang berkeras dengan pendapatnya. Kondisi itu semua berpengaruh terhadap vaksinasi. Pada negara maju sebagian besar masyarakat berkeras dengan pendapatnya," jelas dr. Budiman, dalam jumpa per virtual, Kamis (2/12/2021). 

Ia mengatakan bahwa masyarakat di luar negeri cenderung berkeras. Jadi mereka yang tidak mau divaksin ya tidak menerima vaksin. Sementara di Indonesia beberapa masyarakat yang tadinya termakan dengan hoax untuk tidak divaksin, justru sekarang berbondong-bondong mau divaksin. 

"Ini adalah hal yang sangat positif sekali karena jelas-jelas ini bisa menurunkan angka sakit berat dan kematian," tambahnya. 

Terkait dengan strain baru Covid-19 bernama Omicron yang sedang diperbincangkan dunia, dr. Budiman mengatakan Afrika Selatan telah melihat strain Omicron meningkat secara cepat. Pada 30 November 2021 terdapat 44 kasus terkonfirmasi Omicron yang dilaporkan oleh 11 negara.  

"Sebagian besar kasus yang terkonfirmasi disertai riwayat perjalanan di Afrika. Dari strain Omicron yang terkonfirmasi mayoritas masyarakat sifatnya gejala ringan atau tanpa gejala. Data per 30 November 2021 menyebut belum ada kasus berat ataupun kematian akibat strain Omicron," sebut dia.

(SANDY)

link copied to clipboard
COPY TO CLIPBOARD