sosmed sosmed sosmed sosmed
get app
Advertisement

Insentif Tiket Pesawat hingga Sparepart Dinilai Redam Beban Industri Penerbangan

Economics editor Nia Deviyana
09/07/2026 23:30 WIB
INACA menilai berbagai kebijakan yang diterbitkan pemerintah dalam beberapa waktu terakhir telah membantu meringankan beban operasional maskapai.
Insentif Tiket Pesawat hingga Sparepart Dinilai Redam Beban Industri Penerbangan. Foto: iNews Media Group.
Insentif Tiket Pesawat hingga Sparepart Dinilai Redam Beban Industri Penerbangan. Foto: iNews Media Group.

IDXChannel - Asosiasi Maskapai Penerbangan Nasional Indonesia (INACA) menilai berbagai kebijakan yang diterbitkan pemerintah dalam beberapa waktu terakhir telah membantu meringankan beban operasional maskapai di tengah tekanan industri penerbangan global.

Ketua Umum INACA Denon Prawiraatmadja mengatakan kebijakan seperti penyesuaian fuel surcharge, insentif penurunan harga tiket pesawat melalui pembebasan PPN serta penurunan tarif Pelayanan Jasa Penumpang Pesawat Udara (PJP2U) dan Pelayanan Jasa Pendaratan, Penempatan, dan Penyimpanan Pesawat Udara (PJP4U), hingga skema khusus penghapusan bea masuk suku cadang pesawat menjadi langkah responsif dalam menjaga keberlangsungan industri.

Selain itu, menurut dia, kebijakan Bank Indonesia yang memperbolehkan transaksi menggunakan dolar Amerika Serikat bagi maskapai penerbangan tidak berjadwal (charter) juga memberikan fleksibilitas bagi pelaku usaha.

"Kami berterima kasih kepada pemerintah, dalam hal ini Kementerian Perhubungan dan kementerian serta lembaga lainnya yang selama ini telah membantu industri penerbangan dengan menerbitkan berbagai aturan dan kebijakan yang responsif. Kebijakan itu kami perlukan tidak saja untuk menjaga agar industri, baik maskapai berjadwal, tidak berjadwal maupun kargo tetap bisa berjalan sehat dan berkembang, tetapi juga untuk meningkatkan pelayanan kepada konsumen dan multiplier effect kepada sektor lain," ujar Denon dalam Rapat Umum Anggota (RUA) INACA di Jakarta, Kamis (9/7/2026).

Menurut Denon, industri penerbangan nasional saat ini masih menghadapi tekanan akibat berbagai dinamika global. Konflik geopolitik di Timur Tengah serta perang Rusia-Ukraina telah mendorong kenaikan harga bahan bakar pesawat atau avtur, memperkuat nilai tukar dolar AS terhadap rupiah, serta menyebabkan penutupan sejumlah rute internasional yang berdampak pada operasional maskapai.

Halaman : 1 2
Advertisement
Advertisement