Selain faktor dolar, kenaikan harga energi juga turut memperburuk tekanan terhadap emas. Harga crude oil diperkirakan bergerak di kisaran USD93,3 per barel hingga USD107,1 per barel, sementara Brent crude oil menunjukkan potensi penguatan lebih tinggi di level USD110 hingga USD116.
Lonjakan harga energi ini meningkatkan kekhawatiran inflasi global, yang pada akhirnya mendorong bank sentral mempertahankan kebijakan moneter ketat.
"Ini sebenarnya membuat (harga) emas itu tergelincir, dan investor itu berpindah ke safe haven nya dolar. Karena yang kelihatan kenaikannya cukup tajam bukan crude oil, tapi brent crude oil, yang berdampak terhadap inflasi," sambung Ibrahim.
Di tengah kondisi tersebut, pasar juga dibayangi oleh eskalasi konflik geopolitik, khususnya di kawasan Timur Tengah. Ketegangan yang melibatkan sejumlah negara besar membuat investor cenderung memilih instrumen yang lebih likuid seperti dolar AS dibandingkan emas.
Meski demikian, Ibrahim menegaskan bahwa pelemahan harga emas saat ini bersifat sementara. Ia masih optimistis emas akan kembali menguat seiring meredanya tekanan dolar dan munculnya momentum baru di pasar.
“Emas tetap menjadi safe haven dalam jangka menengah hingga panjang. Koreksi ini lebih karena faktor teknikal dan sentimen pasar global,” katanya.