sosmed sosmed sosmed sosmed
get app
Advertisement

Iran Jajaki Penjualan Minyak ke Jepang di Tengah Relaksasi Sanksi AS

Economics editor Nia Deviyana
06/07/2026 03:00 WIB
Iran mulai menjajaki untuk kembali menjual minyak ke perusahaan-perusahaan Jepang setelah memperoleh relaksasi sanksi Amerika Serikat (AS).
Iran Jajaki Penjualan Minyak ke Jepang di Tengah Relaksasi Sanksi AS. Foto: AP.
Iran Jajaki Penjualan Minyak ke Jepang di Tengah Relaksasi Sanksi AS. Foto: AP.

IDXChannel - Iran mulai menjajaki untuk kembali menjual minyak ke perusahaan-perusahaan Jepang setelah memperoleh relaksasi sanksi Amerika Serikat (AS).

Namun, calon pembeli meminta masa berlaku relaksasi diperpanjang serta jaminan keamanan pelayaran.

Relaksasi sanksi tersebut merupakan bagian dari pembicaraan damai selama 60 hari antara Teheran dan Washington. Kebijakan itu diterbitkan pada 22 Juni dan akan berakhir pada 21 Agustus.

Melansir Reuters, Minggu (5/7/2027), sumber Iran yang enggan disebutkan namanya mengatakan, tiga perusahaan Jepang tengah mempertimbangkan pembelian minyak mentah dari Iran. Jika terealisasi, itu akan menjadi pembelian pertama sejak 2019.

Secara terpisah, seorang sumber industri Barat yang mengetahui pembahasan tersebut mengatakan pejabat Jepang dan Iran sedang melakukan pembicaraan awal mengenai kemungkinan penjualan minyak.

Kementerian Luar Negeri Jepang dan Departemen Keuangan AS belum memberikan tanggapan atas permintaan komentar dari Reuters.

Jepang, Korea Selatan, India, dan sejumlah negara Eropa menghentikan pembelian minyak Iran setelah sanksi AS diperketat menyusul keputusan Presiden Donald Trump menarik AS dari kesepakatan nuklir Iran pada 2018.

Dalam beberapa tahun terakhir, China menjadi pembeli utama minyak Iran.

Seorang pejabat METI lainnya mengatakan kepada Reuters pada Juni bahwa keputusan pembelian sepenuhnya berada di tangan perusahaan swasta. Namun, masih belum jelas apakah transaksi tersebut akan terlaksana mengingat lamanya waktu pengiriman serta kontrak-kontrak yang sudah berjalan.

Dia menambahkan, keamanan pelayaran kapal tanker juga harus dipastikan.

Seorang pejabat senior Iran mengatakan setiap transaksi akan memerlukan perpanjangan relaksasi sanksi AS saat ini, mengingat waktu pelayaran antara Iran dan Jepang cukup panjang.

Dia menambahkan, muatan minyak akan dikirim dari Pulau Kharg menggunakan kapal tanker yang dioperasikan perusahaan Jepang.

Seorang pejabat senior Kementerian Perminyakan Iran mengatakan kepada Reuters bahwa Perusahaan Minyak Nasional Iran (NIOC) telah menghubungi pelanggan-pelanggan tradisional, termasuk Jepang. Iran menyampaikan apabila kesepakatan damai tercapai dan sanksi dicabut, mereka berharap negara-negara tersebut kembali membeli minyak Iran.

Risiko di Selat Hormuz Masih Tinggi

Jalur pelayaran di Selat Hormuz dinilai masih belum aman. Selain itu, mekanisme operasional selat tersebut setelah tercapainya kesepakatan damai permanen antara Teheran dan Washington juga masih belum jelas.

Pekan lalu, sebuah kapal kontainer diserang pasukan Iran di Selat Hormuz. Sementara itu, Garda Revolusi Iran menyatakan seluruh kapal yang akan melintasi selat tersebut harus terlebih dahulu memperoleh izin dari mereka.

Badan pelayaran Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) memperkirakan masih terdapat sekitar 80 ranjau laut yang mengapung di bagian tengah jalur perairan tersebut.

Seorang pejabat senior dari salah satu perusahaan penyulingan minyak besar Jepang mengatakan tantangan terbesar adalah memperoleh perlindungan asuransi bagi pengiriman tersebut.

Sumber perdagangan dan para analis menilai relaksasi sementara sanksi AS saat ini kemungkinan belum cukup untuk menarik minat perusahaan penyulingan besar di Asia yang stok minyaknya masih melimpah. Dengan demikian, kilang-kilang independen di China diperkirakan tetap menjadi pembeli utama minyak Iran.

(NIA DEVIYANA)

Halaman : 1 2 3 4
Advertisement
Advertisement