AALI
9350
ABBA
278
ABDA
0
ABMM
2500
ACES
720
ACST
169
ACST-R
0
ADES
6175
ADHI
745
ADMF
8125
ADMG
173
ADRO
3140
AGAR
314
AGII
2340
AGRO
845
AGRO-R
0
AGRS
116
AHAP
83
AIMS
246
AIMS-W
0
AISA
151
AISA-R
0
AKKU
50
AKPI
1545
AKRA
1180
AKSI
270
ALDO
775
ALKA
292
ALMI
0
ALTO
193
Market Watch
Last updated : 2022/08/10 Data is a realtime snapshot, delayed at least 10 minutes
IDX30
536.47
-0.12%
-0.62
IHSG
7086.24
-0.23%
-16.64
LQ45
1007.80
-0.09%
-0.91
HSI
19567.55
-2.18%
-435.89
N225
27819.33
-0.65%
-180.63
NYSE
15264.79
-0.27%
-41.01
Kurs
HKD/IDR 195
USD/IDR 14,872
Emas
856,617 / gram

Jaga Keamanan Pangan Momen Lebaran, BPOM Gelar Intensifikasi Pangan

ECONOMICS
Ikhsan Permana SP/MPI
Selasa, 26 April 2022 13:37 WIB
Intensifikasi pengawasan pangan ini dilakukan sejak 28 Maret 2022 hingga 6 Mei 2022.
Jaga Keamanan Pangan Momen Lebaran, BPOM Gelar Intensifikasi Pangan (foto: MNC Media)
Jaga Keamanan Pangan Momen Lebaran, BPOM Gelar Intensifikasi Pangan (foto: MNC Media)

IDXChannel – Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) menggelar intensifikasi pengawasan pangan Ramadan dan jelang hari raya Idul Fitri 1433 H. Dari aktivitas tersebut, diketahui bahwa terjadi penurunan dalam persentase sarana dan jumlah produk tidak memenuhi ketentuan (TMK).

Pada tahun 2022 angka penurunannya mencapai 8,63 persen atau menjadi 31,65 persen dari sebelumnya berada di angka 40,28 persen. Untuk buah pada tahun 2021 berada di angka 125.231 buah, mengalami penurunan sebanyak 83.522 buah menjadi 41.709.

Penurunan juga terjadi pada pangan jajanan berbuka puasa (takjil) yang mengandung bahan yang dilarang, penurunannya sebesar 0,26 persen (1,77 persen pada tahun 2021 menjadi 1,51 persen pada tahun 2022).

“Penurunan tersebut tidak terlepas dari upaya yang telah dilakukan oleh Badan POM bersama lintas sektor terkait, melalui Komunikasi, Informasi, dan Edukasi (KIE), Program Pangan Jajanan Anak Sekolah (PJAS), Program Pasar Aman Berbasis Komunitas, serta pendampingan kepada pelaku usaha di sarana produksi dan peredaran”, kata Kepala Badan POM RI, Penny K. Lukito Senin (25/4/2022).

Intensifikasi pengawasan pangan ini dilakukan sejak 28 Maret 2022 hingga 6 Mei 2022. Tahun ini dilakukak secara mandiri oleh 73 Unit Pelaksana Teknis (UPT) BPOM di seluruh Indonesia dan secara terpadu yang bekerja sama dengan perangkat daerah. Tujuannya untuk melindungi masyarakat dari pangan olahan yang tidak aman.

Penny menambahkan, intensifikasi difokuskan pada pangan olahan terkemas TMK, yaitu pangan olahan tanpa izin edar (TIE)/illegal, kedaluarsa dan rusak. BPOM juga mengawasi pangan jajanan berbuka puasa yang mengandung bahan-bahan seperti formalin, boraks dan pewarna yang dilarang untuk pangan (Rhodamin B dan Methanyl Yellow). Pengawasan ini dilakukan di pusat-pusat penjualan takjil dengan melakukan sampling dan pengujian cepat.

“Berdasarkan hasil pelaksanaan intensifikasi pengawasan pangan pada bulan Ramadan dan menjelang Idulfitri 1443 H/Tahun 2022 yang dilaksanakan sampai dengan 17 April 2022, Badan POM masih menemukan produk pangan olahan terkemas yang TMK di sarana peredaran. Masih ditemukan pula pangan jajanan berbuka puasa yang mengandung bahan yang dilarang digunakan pada pangan”, ungkap Penny.

Menindaklanjuti temuan tersebut, BPOM akan melakukan pembinaan dan memberi peringatan kepada pelaku usaha di sarana peredaran, memerintahkan distributor untuk melakukan return atau pengembalian produk kepada supplier, serta perintah pemusnahan terhadap produk yang rusak dan kedaluwarsa.

“Untuk temuan produk TIE, Badan POM akan melakukan pengamanan produk. Badan POM juga siap untuk memberikan bimbingan dan memfasilitasi pelaku usaha untuk memproses pendaftaran produk pangan olahannya”, terang Penny. (TSA)

link copied to clipboard
COPY TO CLIPBOARD