IDXChannel - Indonesia dinilai bakal terdampak secara ekonomi akibat meningkatnya eskalasi konflik di Timur Tengah, khususnya perang Iran dan Israel. Salah satunya inflasi, terutama akibat kenaikan harga minyak dunia dan gangguan rantai pasok logistik.
Wakil Presiden ke-10 dan ke-12, Jusuf Kalla (JK) mengatakan, ketegangan di Timur Tengah berpotensi meningkatkan harga minyak yang pada gilirannya berdampak pada harga BBM di dalam negeri.
"(Kenaikan BBM) Itu (akan) memberatkan subsidi negara," ujar JK di kediamannya, Jakarta, Sabtu (7/3/2026).
Harga minyak WTI per Jumat (6/3/2026) sudah menyentuh harga USD90,9 per barel, naik lebih dari 30 persen imbas perang.
Sementara itu, subsidi energi pada 2026 dialokasikan Rp210 triliun dengan asumsi harga minyak mentah Indonesia (ICP) di level USD70 per barel.
Selain itu, JK juga menyoroti keterbatasan infrastruktur penyimpanan BBM di dalam negeri yang terjadi selama bertahun-tahun. Dengan kebutuhan 1,5 juta barel, stol nasional hanya mampu bertahan tiga minggu atau 21 hari saja.
"Bahwa kita ambil di Timur Tengah tentu sudah sulit. Jadi tergantung pemerintah mau ambil dari mana. Tapi saya kira memang pasti kita akan menghadapi bukan hanya jumlah (stok) tapi harga pasti naik," kata JK.
Kendati demikian, JK meminta masyarakat memahami bahwa situasi ini bukan karena kebijakan dari dalam negeri, tapi dipengaruhi kondisi global yang tidak menentu.
"Ini akibat bukan karena Indonesia, tapi akibat eksternal, akibat perang yang punya efeknya ke Indonesia," katanya.
(Rahmat Fiansyah)