Fokus utama dari kajian ini adalah untuk memastikan stabilitas pasokan sarana kereta api sekaligus membangun sinergi bisnis yang berkelanjutan dalam jangka panjang. Sejalan dengan rencana tersebut, KAI telah merinci kebutuhan sarana perkeretaapian untuk periode lima tahun ke depan.
Kebutuhan tersebut meliputi pengadaan sekitar 2.000 gerbong bottom dump, 1.200 gerbong datar, 652 unit kereta penumpang, hingga 30 rangkaian kereta rel listrik (KRL) untuk operasional di wilayah Jabodetabek.
Penyatuan ini dinilai krusial untuk mengatasi berbagai kendala pengadaan yang selama ini muncul, khususnya terkait aspek kualitas produk dan kepastian waktu pengiriman.
"Dengan adanya integrasi KAI dan INKA, kita harapkan KAI dan INKA bisa membuat roadmap kerja sama pengadaan sarana jangka panjang, bukan hanya per tahun atau jangka pendek, sehingga semua persiapan R&D maupun manufaktur INKA itu bisa direncanakan dari awal sampai akhir," jelas Gede.
Gede menambahkan bahwa adanya kepastian kontrak jangka panjang bakal menjadi stimulus bagi INKA untuk memperkuat investasi di sektor manufaktur dan membenahi sistem rantai pasok mereka. KAI mengestimasi bahwa integrasi ini akan mendongkrak kesehatan finansial INKA secara signifikan dalam beberapa tahun mendatang, terutama dengan adanya potensi pemesanan produk senilai Rp18,9 triliun untuk periode lima tahun.