"Sedangkan bisnis MRO atau recurring income itu sekitar Rp3 triliun per tahun, sehingga dalam lima tahun ke depan itu sekitar Rp15 triliun," tutur Gede.
Melalui proyeksi tersebut, total potensi pendapatan yang bisa diraup INKA selama lima tahun diperkirakan mencapai Rp33,9 triliun. Angka ini merupakan akumulasi dari proyek pengadaan sarana kereta serta lini bisnis perawatan, perbaikan, dan pemeriksaan (maintenance, repair, and overhaul/MRO).
KAI juga menetapkan sasaran agar pada 2029, INKA telah bertransformasi menjadi perusahaan manufaktur kereta yang memiliki struktur keuangan lebih sehat dengan basis bisnis MRO yang kuat. Gede menegaskan dalam pengembangannya, KAI mengacu pada model industri perkeretaapian di beberapa negara maju, termasuk China.
Ke depannya, perusahaan mendorong kemitraan strategis dengan prinsipal global yang mencakup transfer teknologi serta modernisasi fasilitas produksi di dalam negeri. "Bukan hanya kerja sama pengadaan, jadi transfer teknologi, transfer fasilitas, dan lain sebagainya dengan INKA," ucap Gede. (Febrina Ratna Iskana)