AALI
10225
ABBA
474
ABDA
0
ABMM
1650
ACES
1405
ACST
262
ACST-R
0
ADES
2540
ADHI
1095
ADMF
7875
ADMG
240
ADRO
1765
AGAR
344
AGII
1530
AGRO
2130
AGRO-R
0
AGRS
214
AHAP
64
AIMS
505
AIMS-W
0
AISA
232
AISA-R
0
AKKU
50
AKPI
900
AKRA
4650
AKSI
570
ALDO
755
ALKA
246
ALMI
240
ALTO
294
Market Watch
Last updated : 2021/10/26 Data is a realtime snapshot, delayed at least 10 minutes
IDX30
513.30
0.5%
+2.54
IHSG
6656.94
0.47%
+31.24
LQ45
965.04
0.39%
+3.72
HSI
26038.27
-0.36%
-93.76
N225
29106.01
1.77%
+505.60
NYSE
17169.07
0.27%
+46.83
Kurs
HKD/IDR 1,818
USD/IDR 14,150
Emas
818,997 / gram

Kampanyekan Diversifikasi Pangan, Pemkab Bangka Tengah Ajak Warga Konsumsi Ketela hingga Bijur

ECONOMICS
Rachmat Kurniawan/Kontri
Rabu, 22 September 2021 19:13 WIB
Pemerintah Kabupaten Bangka Tengah melalui Dinas Pangan, pada Rabu (22/09/2021) siang mengkampanyekan gerakan diversifikasi pangan.
Kampanyekan Diversifikasi Pangan, Pemkab Bangka Tengah Ajak Warga Konsumsi Ketela hingga Bijur (Dok.MNC Media)

IDXChannel- Ajak masyarakat mengurangi konsumsi beras, pemerintah Kabupaten Bangka Tengah melalui Dinas Pangan, pada Rabu (22/09/2021) siang mengkampanyekan gerakan diversifikasi pangan dengan mengajak masyarakat mulai melakukan variasi makanan lokal lainya yang dapat menggantikan makanan pokok beras.

"Jadi kegiatan kita hari ini merupakan persiapakan kita (Pemkab Bangka Tengah-red) menyampaikan kepada masyarakat untuk mengkonsumsi makanan pokok selain beras dan sudah ada Peraturan Bupati yang mengatur tentang diservikasi pangan ini, mengarah kepada masyarakat untuk mulai terbiasa mengkonsumsi makanan yang sumber karbohidratnya lebih rendah dari beras," ujar Bupati Kabupaten Bangka Tengah Algafry Rahman pada Rabu (22/09/2021).

Algafry menuturkan, program diversivikasi pangan lokal ini dilakukan mengingat kondisi lahan yang ada saat ini mulai sempit dan juga pengaruh cuaca yang tidak menentu. Sehingga pihaknya mengajak masyarakat untuk mulai melirik pangan lokal, seperti ketela, bijur, talas dan lainnya untuk di konsumsi.

"Alasan kita melakukan kegiatan ini  mengingat lahan kita yang mulai sempit untuk menanam sawah, terus pola cuaca yang tidak menentu yang mempengaruhi hasil panen padi, dan
menkonsumsi beras yang terlalu banyak juga tidak baik untuk kesehatan. Untuk itu, kita mengajak masyarakat untuk mulai mengkonsumsi pangan lokal ini," ujar Algafry.

Kata Algafry, beras aruk yang terbuat dari ubi menjadi satu di antara alternatif pengganti beras yang bisa dikonsumsi masyarakat.

"Sebenarnya kita memiliki beras andalan yaitu beras aruk yang dibuat dari ubi kayu yang memiliki tekstur yang keras. Namun memang harganya agak mahal, karena itu kita akan berupaya menjadikan harga beras aruk ini lebih terjangkau dan dapat menjadi pangan alternatif pengganti beras," ujarnya. 

Sementara itu Kepala Dinas Pangan Bangka Tengah, Edi Romdhoni mengungkapkan dalam upaya meningkatkan ketahanan pangan lokal, ia meminta masyarakat untuk mengurangi ketergantungan terhadap konsumsi beras.

"Memang makanan pokok kita adalah beras, dan konsumsi beras kita di Indonesia tiap bulan mencapai 25 juta ton, atau 1 tahun menghabiskan sekitar 94,9 kg beras/orang, jika polanya tidak mau kita ubah kira-kira segitulah yang kita habiskan, dan untuk beras kita masih ambil dari luar Bangka. Untuk itu kita bisa mengganti pangan pokok ini secara perlahan sedikit demi sedikit ke pangan lokal. Misalkan biasanya tiga kali sehari mengkonsumsi beras, kurangi minimal dua kali sehari dan diganti dengan konsumsi pangan lokal," ujar Edi.

(IND) 

Rekomendasi Berita
Berita Terkait
link copied to clipboard
COPY TO CLIPBOARD