"Saya perkirakan memang kalangan menengah atasnya nih nambah spending ini. Dan itu juga sebabnya kenapa PMI manufaktur itu meningkat karena ada peningkatan order di dalam negeri," ujar Faisal.
Jika pun pemerintah menitikberatkan pada daya konsumsi dan parameter PMI, Faisal menyarankan perlu ada upaya peningkatan upah buruh riil untuk mengerek lagi pendapatan, sehingga berkolerasi pada tingkat permintaan dan daya konsumsi.
Ke depan, Faisal mewanti-wanti negara mesti mengakselerasi program unggulan yang berdaya ekonomi berkelanjutan, tak terkecuali sektor manufaktur hingga pertanian. Pemerintah disebutnya jangan berharap kenaikan pertumbuhan ekonomi bertumpu pada aktivitas perekonomian saat momentum hari raya Idulfitri.
"Jadi karena kalau konsumsi rumah tangga walaupun meningkat, ya meningkatnya begitu-begitu aja. Katakanlah kalau kemarin 5,39 persen, (nanti) bisa 5,5 persen," ucap Faisal.
Sebelumnya diberitakan bahwa Menkeu Purbaya menargetkan pertumbuhan ekonomi sebesar enam persen dicapai sebelum semester kedua 2026. Target ini diklaimnya tidak muluk-muluk, jika melihat fundamental ekonomi nasional dan rilis pertumbuhan ekonomi 2025.