AALI
8050
ABBA
222
ABDA
0
ABMM
805
ACES
1340
ACST
222
ACST-R
0
ADES
1825
ADHI
865
ADMF
8100
ADMG
154
ADRO
1290
AGAR
404
AGII
1190
AGRO
1445
AGRO-R
0
AGRS
300
AHAP
65
AIMS
374
AIMS-W
0
AISA
208
AISA-R
0
AKKU
50
AKPI
585
AKRA
3130
AKSI
476
ALDO
735
ALKA
234
ALMI
242
ALTO
374
Market Watch
Last updated : 2021/06/22 Data is a realtime snapshot, delayed at least 10 minutes
IDX30
462.88
0.99%
+4.52
IHSG
6087.84
1.53%
+91.59
LQ45
868.47
1.11%
+9.54
HSI
28309.76
-0.63%
-179.24
N225
28884.13
3.12%
+873.20
NYSE
16411.98
1.66%
+268.03
Kurs
HKD/IDR 1,852
USD/IDR 14,400
Emas
823,703 / gram

Kemenkes: 10 Persen Masyarakat RI Tidak Mau Divaksin Covid-19

ECONOMICS
Binti Mufarida/Sindonews
Jum'at, 04 Juni 2021 16:08 WIB
Jubir Kemenkes, Siti Nadia Tarmizi mengatakan sampai saat ini masih ada 7 sampai 10% masyarakat Indonesia yang tidak mau divaksin Covid-19.
MNC Media

IDXChannel - Juru Bicara Kementerian Kesehatan (Kemenkes), Siti Nadia Tarmizi mengatakan sampai saat ini masih ada 7 sampai 10% masyarakat Indonesia yang tidak mau divaksin Covid-19. 

“Jadi menurut kita yang tentunya harus kita intervensi adalah pertama kita tahu bahwa masih ada yang 7 sampai 10% itu memang sama sekali tidak mau divaksin,” ungkap Nadia secara virtual, Jumat (4/6/2021).

Sementara itu, Nadia mengatakan ada 30 sampai 40% masyarakat yang ragu-ragu untuk divaksin Covid-19. “Kita tahu ada 30-40% yang ragu-ragu. Nah, yang kita dekati itu yang 30-40%, karena diharapkan dengan 30-40% ini akan menjadi role model ya. Nanti kita berbicara kita mungkin akan lebih pada soft rock dulu dulu baru ke hard rock. Itu mungkin yang saya sampaikan strategi-strategi kita,” katanya.

Oleh karena itu, Nadia mengatakan bahwa saat ini upaya yang dilakukan adalah meyakinkan masyarakat yang ragu-ragu untuk divaksin Covid-19. “Yang ragu-ragu ini yang dulu kita ragu-ragu bisa karena kurang informasi, karena enggak yakin, karena kalau yang sudah dari awal menyatakan tidak, membuat perilaku keyakinan itu sangat sulit untuk kita lakukan sampai dirinya merasakankan.”

“Kita tau kan teori daripada perubahan perilaku bagaimana memulai mendapatkan informasi, menginternalisasi, membuat itu menjadi keyakinan, sampai kepada sebuah perilaku yang diharapkan memang tidak mudah ya,” kata Nadia.

Nadia mengatakan dalam vaksinasi Covid-19 ini juga telah ada role modelnya. “Untuk vaksinasi juga telah Role model, tentunya ada kita tetap lakukan. Lalu, tentunya kalau kita berbicara menembus vaksinasi bagi pesantren-pesantren itu ya Kyai-nya yang kita engage. Nah, kemudian kalau kita bicara vaksinasi di daerah Papua, itu pastor, misionaris itu sudah kita lakukan informasi ya.”

Namun, Nadia menyadari bahwa meyakinkan vaksinasi bagi 270 juta masyarakat Indonesia tidak mudah. “Tapi memang dengan 270 juta orang, mungkin ada orang yang merasakan bahwa ada yang merasa bahwa belum dapat informasinya, karena kan kalau kita lihat di sini kan artinya yang respon itu sangat individual ya,” jelasnya.    

(IND) 

link copied to clipboard
COPY TO CLIPBOARD