AALI
10000
ABBA
212
ABDA
0
ABMM
825
ACES
1425
ACST
254
ACST-R
0
ADES
1640
ADHI
1050
ADMF
8000
ADMG
162
ADRO
1185
AGAR
414
AGII
1035
AGRO
880
AGRO-R
0
AGRS
545
AHAP
68
AIMS
510
AIMS-W
0
AISA
256
AISA-R
0
AKKU
50
AKPI
560
AKRA
3130
AKSI
755
ALDO
815
ALKA
240
ALMI
236
ALTO
326
Market Watch
Last updated : 2021/05/17 Data is a realtime snapshot, delayed at least 10 minutes
IDX30
462.85
-1.35%
-6.35
IHSG
5833.86
-1.76%
-104.49
LQ45
869.49
-1.52%
-13.44
HSI
28194.09
0.59%
+166.49
N225
27824.83
-0.92%
-259.64
NYSE
16415.36
1.45%
+233.76
Kurs
HKD/IDR 1,836
USD/IDR 14,280
Emas
850,841 / gram

Kemenkeu: Penerimaan APBN Belum Kembali Normal

ECONOMICS
Giri Hartomo/Okezone
Senin, 12 April 2021 19:01 WIB
Tahun ini masih dalam masa pandemi covid-19, membuat penerimaan APBN masih belum kembali normal.
Kemenkeu: Penerimaan APBN Belum Kembali Normal. (Foto: MNC Media)

IDXChannel - Kementerian Keuangan menyebut kondisi pada 2021 ini masih sangat menantang. Mengingat pada tahun ini masih dalam masa pandemi covid-19, membuat penerimaan APBN masih belum kembali normal.

Direktur Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko Kementerian Keuangan, Luky Alfirman, mengatakan, kondisi menantang ini dikarenakan pendapatan pemerintah masih belum kembali normal. Pasalnya, beberapa perusahaan maupun perorangan masih terkena dampak dari pandemi covid-19.

“Tahun 2021 APBN kita masih dalam kondisi yang sangat menantang di mana dari sisi pendapatan penerimaan diperkirakan belum kembali normal,” ujarnya dalam acara penandatanganan proyek KPBU Jalintim Riau, Senin (12/4/2021).

Meskipun begitu, pemerintah tetap berusaha untuk memenuhi kebutuhan anggaran pemerintah. Seperti misalnya untuk memberikan stimulus kepada perekonomian dan belanja infrastruktur.

“Namun kota tahu juga APBN tetap mengupayakan pemenuhan kebutuhan belanja sebagai bagian memberikan stimulus kepada perekonomian termasuk infrastruktur,” jelas Luky.

Luky menambahkan, akan tetap menerapkan kebijakan fiskal yang ekspansif dan konsolidatif. Pada tahun ini pemerintah menargetkan angka defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) adalah di kisaran 5,7% dari Produk Domestik Bruto (PDB).

Meskipun target defisit APBN ini lebih kecil dibandingkan tahun lalu yang realisasinya 6,09% dari PDB, namun harus tetap hati-hati. Mengingat pada 2023 APBN akan kembali menerapkan defisit APBN 3% dari PDB.

“Karena itu poinya di sini adalah kita pemerintah kreatif inovatif mencari sumber-sumber pembiayaan pembangunan yang aman, hati-hati dan berkelanjutan,” jelasnya. (TYO)

link copied to clipboard
COPY TO CLIPBOARD