Angka penarikan utang tersebut mencatatkan level tertinggi dalam kurun beberapa tahun terakhir sejak realisasi penarikan utang pada 2022 sebesar Rp696,0 triliun.
Untuk memitigasi beban kewajiban serta risiko volatilitas pasar keuangan global, Kemenkeu mengedepankan penerbitan Surat Berharga Negara (SBN) di pasar domestik berdenominasi rupiah. Langkah ini dinilai efektif membentengi portofolio utang dari tekanan eksternal.
“Yang kedua, tadi disampaikan juga di presentasi, menjalankan active debt management seperti liability management untuk menekan biaya bunga,” ujar Ferry.
Melalui skema pengelolaan utang secara aktif (active debt management) tersebut, pemerintah optimistis biaya imbal hasil dan beban bunga utang dapat ditekan secara optimal dengan tingkat risiko keuangan yang terkendali.
“Dengan strategi ini, rasio utang terhadap PDB akan terus berada pada sisi aman,” kata Ferry.
(Dhera Arizona)