“Kami sangat bangga dan mendukung kerja sama ini. Ibarat mobil, kolaborasi antara KPI dan PT Garam adalah double gardan kemandirian. Tak hanya kemandirian energi yang menjadi domain Pertamina, tapi juga akan menciptakan pangan,” ujar Agung.
Agung menambahkan, pembangunan pabrik garam di Balikpapan dengan perkiraan kapasitas 1000 KTA dapat mengurangi impor hingga USD150 juta atau sekitar Rp2,5 triliun. Ia berharap kerja sama ini juga memberi multiplier effect, seperti tumbuhnya kawasan industri, terciptanya lapangan kerja baru, sehingga memperkuat posisi Indonesia sebagai produsen garam industri di kawasan Asia Tenggara.
Dalam kesempatan yang sama, Direktur Utama PT Garam, Abraham Mose, menyambut baik rencana kerja sama dengan KPI.
Hilirisasi garam nasional ini akan memanfaatkan air buangan desalinasi (brine water) dari kilang RDMP Balikpapan. Menurutnya, setelah dilakukan survei lapangan, kondisi air buangan dari kilang RDMP Balikpapan diketahui sangat potensial.
Berdasarkan analisa awal, proyek ini diperkirakan mampu menghasilkan sekitar 1 juta ton garam per tahun.