sosmed sosmed sosmed sosmed
get app
Advertisement

Konflik Timur Tengah Picu Kenaikan Harga Energi, Industri Semen hingga Pupuk Rawan Terdampak

Economics editor Nia Deviyana
06/03/2026 09:20 WIB
Eskalasi konflik geopolitik antara Iran, Israel, dan Amerika Serikat (AS) memunculkan kekhawatiran terhadap stabilitas ekonomi global.
Konflik Timur Tengah Picu Kenaikan Harga Energi, Industri Semen hingga Pupuk Rawan Terdampak. Foto: iNews Media Group.
Konflik Timur Tengah Picu Kenaikan Harga Energi, Industri Semen hingga Pupuk Rawan Terdampak. Foto: iNews Media Group.

IDXChannel - Eskalasi konflik geopolitik antara Iran, Israel, dan Amerika Serikat (AS) memunculkan kekhawatiran terhadap stabilitas ekonomi global. Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita menyampaikan, konflik di kawasan Timur Tengah tersebut dapat memicu volatilitas harga energi global, gangguan pada jalur perdagangan internasional, serta peningkatan biaya logistik dan bahan baku industri. 

Kenaikan harga energi global akan berdampak langsung pada industri manufaktur karena sebagian besar sektor industri menggunakan energi sebagai komponen biaya produksi utama. Industri seperti petrokimia, logam dasar, semen, pupuk, serta berbagai subsektor industri pengolahan lainnya sangat sensitif terhadap fluktuasi harga energi.

Dampak juga akan dirasakan pada beberapa sektor industri yang memiliki ketergantungan terhadap bahan baku impor, seperti industri kimia, tekstil, hingga industri makanan dan minuman.

"Jika harga energi global meningkat dalam jangka waktu yang panjang, maka biaya produksi industri manufaktur juga berpotensi naik. Hal ini tentu dapat memengaruhi efisiensi produksi serta daya saing produk industri di pasar domestik maupun ekspor," ujar Agus dalam keterangannya, Jumat (6/3/2026).

Agus menegaskan pemerintah terus melakukan langkah-langkah antisipatif untuk menjaga ketahanan sektor industri nasional. Salah satu strategi yang dilakukan adalah memperkuat struktur industri hulu, meningkatkan penggunaan bahan baku dalam negeri, serta memperluas diversifikasi pasar ekspor.

"Penguatan industri hulu dan peningkatan penggunaan produk dalam negeri menjadi sangat penting agar industri manufaktur Indonesia tidak terlalu bergantung pada pasokan global yang rentan terhadap gejolak geopolitik," ujarnya.

Selain itu, pemerintah juga mendorong peningkatan efisiensi energi di sektor industri serta percepatan transformasi menuju industri hijau. Langkah ini dinilai penting untuk mengurangi ketergantungan terhadap energi fosil yang harganya sangat dipengaruhi oleh dinamika geopolitik global.

Agus optimistis industri manufaktur nasional memiliki ketahanan yang cukup kuat dalam menghadapi berbagai tantangan global. Hal ini, kata dia, didukung oleh struktur industri yang semakin terdiversifikasi serta kontribusi sektor manufaktur yang tetap menjadi tulang punggung perekonomian nasional.

"Kemenperin akan terus berkoordinasi dengan berbagai pemangku kepentingan, termasuk pelaku industri, asosiasi, dan kementerian/lembaga terkait, guna memastikan bahwa sektor industri manufaktur nasional tetap mampu tumbuh dan berdaya saing di tengah dinamika ekonomi global," ucap Agus.

(NIA DEVIYANA)

Halaman : 1 2
Advertisement
Advertisement