AALI
12925
ABBA
197
ABDA
0
ABMM
3280
ACES
1010
ACST
163
ACST-R
0
ADES
4830
ADHI
670
ADMF
8050
ADMG
187
ADRO
3310
AGAR
354
AGII
1975
AGRO
960
AGRO-R
0
AGRS
127
AHAP
61
AIMS
244
AIMS-W
0
AISA
160
AISA-R
0
AKKU
50
AKPI
930
AKRA
1025
AKSI
232
ALDO
925
ALKA
298
ALMI
280
ALTO
204
Market Watch
Last updated : 2022/05/20 Data is a realtime snapshot, delayed at least 10 minutes
IDX30
542.40
0.61%
+3.27
IHSG
6918.14
1.39%
+94.81
LQ45
1015.18
0.69%
+6.97
HSI
20717.24
2.97%
+596.56
N225
26739.03
1.27%
+336.19
NYSE
0.00
-100%
-15044.52
Kurs
HKD/IDR 1,866
USD/IDR 14,664
Emas
870,562 / gram

Krisis Energi Global Dinilai Bukan Hal yang Baru, Ini Alasannya

ECONOMICS
Oktiani Endarwati
Senin, 11 Oktober 2021 19:08 WIB
Hubungan krisis energi di negara-negara tersebut berkaitan dengan ketergantungan pada bahan bakar fosil.
Krisis Energi Global Dinilai Bukan Hal yang Baru, Ini Alasannya (FOTO:MNC Media)
Krisis Energi Global Dinilai Bukan Hal yang Baru, Ini Alasannya (FOTO:MNC Media)

IDXChannel - Saat ini, krisis energi tengah terjadi di berbagai negara dunia. Tidak hanya Uni Eropa dan Inggris, China, India, Afrika, dan Timur Tengah juga mengalami krisis energi. 

Ini ditandai dengan meroketnya harga gas dan batu bara, diikuti oleh kenaikan harga minyak. Direktur Eksekutif Institute for Essential Services Reform (IESR) Fabby Tumiwa mengatakan, krisis energi yang terjadi saat ini bukan hal yang baru. 

Hubungan krisis energi di negara-negara tersebut berkaitan dengan ketergantungan pada bahan bakar fosil

"Salah satu krisis yang cukup penting adalah krisis harga minyak di tahun 70-an. Kemudian krisis energi tahun 2008 yang kita tahu harga minyak pernah naik sangat tinggi mencapai USD160 per barel. Ini menunjukkan bahwa volatilitas harga energi primer khususnya energi fosil itu sangat tinggi," ujarnya dalam webinar Senin (11/10/2021). 

Menurut dia, krisis energi yang terjadi saat ini bukan krisis energi terbarukan, melainkan krisis harga bahan bakar fosil. Hal ini karena bahan bakar fosil merupakan komoditas global yang dapat diperdagangkan. Bahan bakar fosil juga sangat bergantung pada permintaan dan penawaran yang menentukan harganya. 

"Harus kita pahami bahwa krisis energi yang terjadi saat ini sebagai krisis fossil fuel, bukan krisis energi terbarukan," tuturnya. 

Fabby menambahkan, krisis energi yang terjadi di Uni Eropa dan Inggris disebabkan karena kenaikan harga gas menjelang musim dingin. Banyak negara seperti di Eropa dan Inggris ketika menghadapi musim dingin akan meningkatkan cadangan gas. Namun, karena ada suplai yang terdampak maka harga gas di Eropa naik sangat tinggi. 

Sementara krisis energi di China karena kenaikan harga batu bara yang membuat PLTU di China mengurangi konsumsi batu bara. 

"Selama dunia masih bergantung pada energi fosil maka volatilitas harga energi fosil akan memengaruhi keamanan pasokan energi kita. Semuanya bergantung pada demand and supply." jelasnya. 

(SANDY)

link copied to clipboard
COPY TO CLIPBOARD