sosmed sosmed sosmed sosmed
get app
Advertisement

Krisis Energi Global Memanas, Pasokan LNG Domestik Harus Jadi Prioritas

Economics editor Kunthi Fahmar Sandy
20/05/2026 08:39 WIB
Eskalasi geopolitik di Timur Tengah saat ini telah mendorong krisis energi global yang berdampak langsung terhadap rantai pasok dan harga energi dunia
Krisis Energi Global Memanas, Pasokan LNG Domestik Harus Jadi Prioritas (FOTO:Dok Ist)
Krisis Energi Global Memanas, Pasokan LNG Domestik Harus Jadi Prioritas (FOTO:Dok Ist)

Menurutnya, langkah tersebut penting karena sektor industri merupakan salah satu penggerak utama ekonomi nasional dan pencipta lapangan kerja. Tanpa kepastian energi, industri berisiko menghadapi tekanan produksi yang pada akhirnya berdampak terhadap aktivitas ekonomi secara lebih luas.

Ditambah lagi dengan menyadari peran strategis gas bumi sebagai jembatan energi dan tulang punggung industri nasional. Terutama juga untuk mendukung ketahanan energi. ”Tanpa gas, transisi energi tidak mungkin jalan dan kehilangan gas sama saja kehilangan daya saing industri," tutur dia.

Setelah dilakukan penyesuaian harga, LNG diyakini Iwa masih jauh lebih kompetitif di antara energi fosil. Berdasarkan kalkulasi BPH Migas dan ESDM, 1 MMBTU gas setara dengan 7 liter solar. Seandainya LNG setelah penyesuaian harga menjadi setera Rp150 ribu per MMBTU, maka setara Rp21.400 per liter solar.

”Sementara solar industri (non subsidi) sekarang harganya sudah jauh di atas dan belum termasuk biaya perawatan mesin yang lebih tinggi. Sedangkan gas punya efisiensi pembakaran 90-95 persen vs solar 80-85 persen, biaya perawatan mesin lebih rendah, emisi CO2 40 persen lebih rendah dari batubara, 25 persen lebih rendah dari solar,” ujarnya.

Setelah penyesuaian, harga LNG domestik industri berada pada kisaran USD21–25 per MMBTU, masih lebih rendah dibandingkan LPG industri sekitar USD28,3 per MMBTU maupun solar industri yang mencapai sekitar USD43 per MMBTU.

(kunthi fahmar sandy)

Halaman : 1 2 3 4 Lihat Semua
Advertisement
Advertisement