Iwa yang juga Guru Besar Universitas Indonesia dan Rektor IT PLN ini menjelaskan, negara yang tidak punya kontrak jangka panjang, infrastruktur regasifikasi yang fleksibel, dan cadangan strategis, akan kalah bersaing. Sementara, energi sangat dibutuhkan terlebih untuk sektor vital.
”Ketersediaan lebih penting dari pada harga dalam jangka pendek. Energi memang “oksigen” ekonomi. Tanpa listrik, tanpa gas untuk industri, pabrik berhenti, rantai pasok putus, inflasi meningkat, yang mana ini sangat tidak diinginkan oleh semua negara,” tuturnya.
Dari sudut pandang akademis, Iwa menegaskan, dalam situasi seperti saat ini urutan paling utama adalah ketersediaan energi. Setelah itu baru pengaturan harga sesuai prinsip keadilan. ”Availability first, then affordability management. Sebaiknya Jangan dibalik.”
Hal tersebut berlaku untuk seluruh energi baik itu BBM, LPG, maupun LNG yang telah mengalami lonjakan harga secara global di tengah dinamika geopolitik. Di Indonesia, harga LPG industri tercatat telah meningkat sekitar 25–26 persen, sementara solar industri mengalami kenaikan jauh lebih tinggi, yakni sekitar 77–84 persen mengikuti lonjakan harga energi global.
Selanjutnya, harga LNG disarankan perlu segera dilakukan penyesuaian karena harga acuan global sudah melonjak dan dalam pendek akan menciptakan tekanan yang lebih signifikan. ”LNG domestik belum naik karena masih pakai kontrak lama tapi tekanan itu akan datang,” kata Iwa.