Terlebih, eskalasi konflik di Timur Tengah sejak Februari 2026 telah memicu lonjakan harga acuan LNG global. Kondisi tersebut terlihat dari kenaikan Japan Crude Cocktail (JCC) sekitar 97 persen dan Japan Korea Marker (JKM) sekitar 111 persen sepanjang Maret–April 2026, yang kemudian ikut mendorong Indonesian Crude Price (ICP) naik hingga sekitar 99 persen dibandingkan asumsi awal tahun.
Kondisi tersebut menciptakan tekanan besar terhadap rantai pasok LNG dunia. Ia menilai publik perlu memahami bahwa harga LNG domestik pada dasarnya tetap terhubung dengan mekanisme pasar global.
Meski pasokan LNG berasal dari sumber domestik, formula harga masih mengacu pada indikator internasional seperti JCC dan JKM yang menjadi referensi utama perdagangan LNG Asia.
”Untuk mengamankan LNG domestik, kita harus ubah mindset dari ‘jual semurah mungkin’ ke ‘jamin pasokan dulu, harga dikelola’. Jangan denial dengan menahan harga terlalu lama,” katanya.
Dalam kondisi pasar LNG internasional yang semakin ketat, Iwa menilai pemerintah perlu memprioritaskan penyelamatan pasokan domestik, selain penyesuaian harga, kemungkinan pengalihan sebagian pasokan LNG ekspor untuk kebutuhan dalam negeri adalah langkah yang harus dipertimbangkan.