Dalam peta persaingan global tahun 2025, Indonesia kokoh berada di peringkat kedua dengan penguasaan pangsa pasar (market share) sebesar 22 persen. Posisi teratas masih ditempati oleh Filipina sebagai pemain utama dunia dengan porsi mencapai 49 persen, sementara posisi ketiga dihuni oleh Belanda yang mengantongi pangsa pasar sebesar 10 persen.
Meskipun harus bersaing ketat dengan Filipina, daya saing produk minyak kelapa olahan atau dimurnikan asal Indonesia dinilai sangat resilien.
Kekuatan utama Indonesia terletak pada tingginya tingkat diversifikasi pasar tujuan yang tersebar di lebih dari 90 negara. Strategi ini berhasil memitigasi risiko ketergantungan pada kawasan tertentu sekaligus mempertebal daya tawar (bargaining power) Indonesia.
Sejauh ini, pilar pasar utama ekspor Indonesia meliputi Belanda, China, Filipina, Malaysia, dan Amerika Serikat. Ke depan, Indonesia masih memiliki ruang penetrasi yang luas untuk menyasar pasar Eropa serta kawasan non-tradisional lainnya. Langkah ini sejalan dengan tren global yang mulai beralih ke gaya hidup sehat serta penggunaan bahan baku alami untuk industri pangan, kosmetik, dan farmasi.
“Sebagai salah satu produsen kelapa terbesar di dunia, Indonesia memiliki potensi untuk melakukan penetrasi ekspor ke pasar yang menaruh perhatian pada produk berbasis keberlanjutan, seperti Uni eropa,” ungkap Rini.