Memasuki tahun anggaran 2026, IEB Institute memproyeksikan nilai ekspor minyak kelapa nasional akan tumbuh moderat di kisaran 9 persen. Prediksi ini didasarkan pada ekspektasi mulai pulihnya kapasitas produksi kelapa dari negara kompetitor seperti Filipina, yang secara bertahap akan membawa harga kelapa global kembali ke tingkat normal.
Guna menghadapi normalisasi harga tersebut, Rini menegaskan bahwa Indonesia wajib mengatasi tantangan struktural di sektor hulu, terutama menyangkut ketahanan pasokan bahan baku.
Sektor perkebunan kelapa nasional saat ini dibayangi oleh masalah penuaan pohon (aging), rendahnya produktivitas petani swadaya, faktor cuaca ekstrem, hingga maraknya aktivitas ekspor kelapa bulat (utuh) ke luar negeri yang mengurangi jatah bahan baku industri lokal.
Sebagai solusi, pemerintah telah menggulirkan program replanting perkebunan kelapa dengan realisasi mencapai 44,9 ribu hektare pada 2024, dan menargetkan perluasan cakupan program hingga ratusan ribu hektare untuk periode 2026–2027.
“Peremajaan kebun kelapa dan penguatan hilirisasi menjadi strategi kunci untuk menjaga keberlanjutan industri minyak kelapa nasional. Pemerintah telah memulai langkah peremajaan kebun dengan realisasi sekitar 44,9 ribu hektare pada 2024, serta menargetkan perluasan program replanting hingga ratusan ribu hektare pada periode 2026–2027. Upaya ini diharapkan mampu meningkatkan produktivitas kelapa dan menjamin pasokan bahan baku bagi industri pengolahan dalam negeri,” ujar Rini.