AALI
9800
ABBA
188
ABDA
0
ABMM
2360
ACES
780
ACST
170
ACST-R
0
ADES
7375
ADHI
815
ADMF
8100
ADMG
177
ADRO
2970
AGAR
318
AGII
1950
AGRO
765
AGRO-R
0
AGRS
122
AHAP
57
AIMS
254
AIMS-W
0
AISA
152
AISA-R
0
AKKU
50
AKPI
1640
AKRA
1060
AKSI
294
ALDO
855
ALKA
294
ALMI
292
ALTO
228
Market Watch
Last updated : 2022/06/24 Data is a realtime snapshot, delayed at least 10 minutes
IDX30
544.03
0.56%
+3.01
IHSG
7042.94
0.64%
+44.67
LQ45
1018.99
0.57%
+5.77
HSI
21719.06
2.09%
+445.19
N225
26491.97
1.23%
+320.72
NYSE
14402.12
0.34%
+49.32
Kurs
HKD/IDR 1,889
USD/IDR 14,845
Emas
873,761 / gram

Kurangi Porsi Hingga Naikin Harga Makanan, Jadi Solusi Pedagang Warteg Hadapi Sembako Mahal

ECONOMICS
Mohammad Yan Yusuf
Rabu, 19 Januari 2022 11:55 WIB
Pedagang makanan mulai menaikkan harga makanan hingga mengurangi porsi makan. Hal ini demi meminimalisir anggaran operasional barang agar tidak membengkak.
Kurangi Porsi Hingga Naikin Harga Makanan, Jadi Solusi Pedagang Warteg Hadapi Sembako Mahal. (Foto: MNC Media)
Kurangi Porsi Hingga Naikin Harga Makanan, Jadi Solusi Pedagang Warteg Hadapi Sembako Mahal. (Foto: MNC Media)

IDXChannel - Kenaikan harga sembako yang terjadi beberapa waktu lalu diamati para pedagang makanan dengan berbagai perspektif dan strategi demi bertahan hidup, mulai dari menaikkan harga makanan hingga mengurangi porsi makan. Hal ini demi meminimalisir anggaran operasional barang agar tidak membengkak.

"Mau bagaimana, kalau kita pakai harga normal, bisa rugi kita," kata Tuti (36) pedagang warung makan di kawasan Palmerah, Jakarta Barat, Rabu (19/1/2022).

Tuti akui rentetan kenaikan harga yang terjadi dalam sebulan terakhir telah membuat dirinya kesulitan berjualan. Operasional warungnya membengkak seiring meningkatnya modal harian.

Sebaliknya, dalam masa pandemi Covid-19 pelanggannya juga mulai berkurang imbas penerapan Work From Home (WFH) yang diterapkan sejumlah kantor swasta dan pemerintah membuat pihaknya kehilanggan pelanggan yang tidak lagi makan, bahkan beberapa diantaranya ada yang membawa bekal dari rumah.

Ini terlihat dari beberapa pelanggannya yang kemudian hanya membeli minuman saat makan bersama beberapa temannya di warung miliknya.

Termasuk ketika harga telor merangkak naik, Tuti mengakui dirinya sempat kebingungan, terlebih kala itu harga telor nyaris serupa dengan harga ayam potong yang berkisar Rp30 ribu. Saat itu, Tuti terpaksa menaikkan tarif porsi per makannya.

Bila biasanya makan dengan telur dadar plus sayur hanya Rp 10 ribu, namun kala itu Tuti harus menaikkan harga menjadi Rp15-Rp17 ribu untuk satu porsi serupa. Ditambah dengan es teh manis, harganya satu porsi makan Tuti menjadi Rp20 ribu.

Sekalipun demikian, Tuti mengakui hal itu tak cukup memengaruhi minat pelanggan untuk makan di warungnya. "Semua pelanggan sini bilang telor dadar saya beda, tahu dah bedanya apa," kata Tuti. (FHM)

link copied to clipboard
COPY TO CLIPBOARD